Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia berpotensi kehilangan pamornya di antara negara emerging market (EM) selepas penyedia indeks global FTSE Russell menunda melakukan review terhadap indeks Tanah Air.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai pelaku pasar cenderung bersikap menunggu arah kebijakan FTSE Russell. Namun, dalam jangka pendek, keputusan tersebut berpotensi menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Respon pasar cenderung netral, wait and see. Ada risiko relokasi dana ke emerging market lain seperti India atau Vietnam,” kata Wafi kepada Bisnis, Selasa (10/2/2026).
Wafi memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlangsung hingga FTSE Russell mengumumkan hasil peninjauan kuartalan pada 22 Mei 2026. Dalam periode tersebut, IHSG diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan sideways sembari menunggu langkah penanganan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO).
“Ini lebih ke wake up call supaya kita bisa menaikkan governance standards. IHSG akan volatil dengan kecenderungan sideways jangka pendek sambil menunggu langkah dari otoritas,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia. Ia menilai perbaikan sentimen pasar hanya dapat terjadi apabila OJK dan SRO mampu menyelesaikan persoalan fundamental yang disoroti lembaga internasional.
Baca Juga
- Menakar Arah Investor Asing yang Catat Net Sell Rp11,7 Triliun Sejak Awal Tahun
- BI Blak-blakan Penyebab Bank Sentral Rajin Beli Emas dan Rupiah Melemah
- Istana Kantongi Nama Pansel Penjaring Ketua OJK Cs
Menurut Liza, setidaknya enam institusi keuangan global seperti MSCI, Goldman Sachs, UBS, Nomura, Moody’s, dan FTSE Russell yang menyoroti pasar modal Indonesia memasuki 2026. Dalam jangka pendek, fluktuasi pasar diperkirakan tetap tinggi, sementara tekanan jual investor asing baru akan mereda setelah ada kepastian dan hasil konkret dari pemerintah.
“Dalam jangka pendek, fluktuasi pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan volatil. Intensitas net sell asing kemungkinan besar baru akan melandai setelah adanya kepastian serta hasil konkret dari pemerintah dalam menanggapi isu penurunan rating,” kata Liza.
Meski demikian, Liza menilai tekanan jual yang masif secara historis kerap menciptakan anomali harga, yang dapat dimanfaatkan sebagai momentum strategi buy on weakness, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang telah terdiskon. Namun, ia mengingatkan saham jumbo kerap menjadi sumber likuiditas keluar bagi investor global, sehingga investor disarankan memilih sektor defensif dengan fundamental kuat.
Sebelumnya, FTSE Russell menyampaikan OJK telah menggelar konferensi pers untuk menyatakan komitmen peningkatan integritas dan transparansi pasar modal Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah menerbitkan rencana reformasi pasar modal pada 5 Februari 2026.
“Menindaklanjuti masukan dari External Advisory Committees FTSE Russell, serta dengan mempertimbangkan potensi dampak negatif terhadap turnover dan ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat atas sekuritas Indonesia seiring dengan berlangsungnya rencana reformasi tersebut, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Indonesia yang dijadwalkan pada Maret 2026,” tulis FTSE Russell.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan Aturan 2.4 tentang Exceptional Market Disruption dalam Kebijakan Indeks. Dengan penundaan ini, FTSE Russell untuk sementara tidak akan mengimplementasikan penambahan maupun penghapusan saham Indonesia dalam indeks, termasuk perubahan segmen kapitalisasi dan penyesuaian bobot investability, hingga proses reformasi dinilai lebih jelas.



