Disutradarai oleh Ody Harahap dengan Zairin Zain sebagai produser, Rumah Tanpa Cahaya menawarkan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan banyak keluarga Indonesia. Film ini coba menghadirkan narasi yang mudah dirasakan penonton lintas usia.
Cerita berfokus pada sosok Nurul yang diperankan Ira Wibowo. Ia digambarkan sebagai ibu yang menjadi pusat kehidupan keluarga, sosok yang menjaga keseimbangan rumah tangga dengan kasih sayang, doa, dan pengorbanan tanpa henti. Bersama suaminya, Qomar, Nurul membesarkan dua anak mereka dalam kesederhanaan.
Baca Juga :
Pemain Agak Laen Tunaikan Nazar Mengabdi di Panti JompoSelain mengurus keluarga, Nurul juga mengelola Warung Empal Gentong yang menjadi sumber penghidupan. Warung tersebut tidak sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang berbagi bagi siapa pun yang membutuhkan uluran tangan dan kehangatan.
Kehidupan keluarga itu berubah drastis ketika Nurul meninggal dunia. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang mendalam. Warung yang sebelumnya hidup mendadak sunyi, sementara suasana rumah terasa asing dan kehilangan arah.
Qomar yang diperankan Donny Damara tenggelam dalam kesedihan dan kesepian. Ia kesulitan menata hidup tanpa pendamping yang selama ini menjadi sandaran emosionalnya. Dua putra mereka, Samsul dan Azizi, juga harus menghadapi kenyataan pahit tentang arti kehilangan seorang ibu.
Keretakan hubungan pun tak terhindarkan. Anak-anak yang sebelumnya merasa kehadiran sang ibu sebagai hal biasa kini menyadari betapa besar perannya dalam menyatukan keluarga. Rumah yang dahulu penuh cahaya berubah menjadi ruang yang gelap oleh duka dan jarak emosional.
“Peran ini sangat dekat dengan hati saya. Rumah Tanpa Cahaya bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana cinta seorang ibu tetap hidup dan membimbing keluarganya, bahkan ketika ia sudah tiada. Nurul adalah gambaran banyak ibu di Indonesia diam-diam kuat, penuh cinta, dan sering kali menjadi cahaya tanpa pernah meminta untuk dilihat,” ungkap Ira Wibowo.
Baca Juga :
Ini Hukuman untuk Pandji Pragiwaksono di Sidang Adat TorajaDonny Damara juga mengungkapkan kedalaman tema yang diangkat film ini. “Film ini mengajak kita merenung sering kali kita baru memahami arti keluarga dan pengorbanan setelah kehilangan itu benar-benar terjadi,” ujarnya.
Naskah film ini ditulis oleh tim penulis yang terdiri dari Syaikhu Luthfi, Deddy Mizwar, Zairin Zain, Ody Harahap, Amiruddin Olland, dan Rafi Muhammad Zuhdi. Cerita dirangkai dengan fokus pada proses penyembuhan, penerimaan, dan pencarian makna kebersamaan yang sempat hilang.
Deretan pemain pendukung seperti Ridwan A. Ghany, Lavicky Nicholas, Dea Annisa, Galabby Thahira, Ence Bagus, dan Widi Dwinanda turut memperkuat emosi cerita.
"Film ini mengajak penonton untuk kembali menghargai kehadiran orang-orang tercinta, terutama sosok ibu, sebagai cahaya yang sering kali baru disadari nilainya ketika telah pergi," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)





