Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Brasil dikenal sebagai gudangnya pesepakbola legendaris, namun hanya satu nama yang berhasil mencatatkan rekor unik dan tak tertandingi hingga kini, Cafu. Mantan bek kanan Timnas Brasil itu menjadi satu-satunya pemain dalam sejarah sepakbola yang tampil di tiga final Piala Dunia.
Cafu, yang memiliki nama lengkap Marcos Evangelista de Moraes, lahir di Sao Paulo dari keluarga sederhana. Ia merupakan anak keenam dari pasangan Celio dan Cleusa. Julukan “Cafu” diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Cafuringa, winger legendaris Brasil era 1970-an.
Tak banyak yang menyangka, perjalanan Cafu menuju panggung tertinggi sepakbola dunia bermula dari kawasan pinggiran Sao Paulo.
Ia bahkan disebut lahir saat Brasil tengah menjalani laga fase grup melawan Inggris pada Piala Dunia 1970 di Meksiko. Dua dekade kemudian, namanya justru melekat erat dengan turnamen tersebut.
Final Piala Dunia pertama Cafu terjadi pada edisi 1994 di Amerika Serikat. Saat itu, ia masih berusia 24 tahun dan berstatus sebagai pelapis bek kanan utama Jorginho.
Cafu baru masuk menggantikan Jorginho yang cedera pada laga final melawan Italia di Rose Bowl. Laga tersebut berakhir tanpa gol dan ditentukan melalui adu penalti, yang dimenangkan Brasil untuk meraih gelar juara dunia keempat.
Empat tahun berselang, Cafu tampil sebagai pemain inti pada Piala Dunia 1998 di Prancis. Ia telah menjadi bagian penting dari skuat utama Brasil dan dikenal sebagai bek kanan modern dengan kemampuan menyerang yang agresif.
Namun, final di Paris berakhir pahit setelah Brasil takluk 0-3 dari tuan rumah Prancis yang dipimpin Zinedine Zidane.
Perjalanan Cafu mencapai puncaknya pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Meski sempat kehilangan ban kapten, Cafu kembali dipercaya memimpin tim setelah cedera yang menimpa Emerson.
Ia membawa Brasil menyapu bersih fase grup dan babak gugur hingga melaju ke final melawan Jerman.
Di Stadion Internasional Yokohama, Cafu mencatatkan sejarah. Pada usia 32 tahun, ia menjadi pemain pertama dan hingga kini satu-satunya yang tampil di tiga final Piala Dunia. Brasil menang 2-0 berkat dua gol Ronaldo Nazario, sekaligus mengamankan gelar juara dunia kelima.
Momen ikonik pun tercipta saat Cafu mengangkat trofi Piala Dunia. Ia membuka kausnya dan memperlihatkan tulisan “100 Persen Jardim Irene”, nama kawasan tempat ia dibesarkan. Sebuah simbol perjalanan hidup dari kampung sederhana menuju puncak dunia.
Cafu tak hanya dikenang sebagai bek kanan legendaris, tetapi juga sebagai kapten terakhir Brasil yang mengangkat trofi Piala Dunia.
Rekornya masih bertahan hingga kini, menjadi pengingat bahwa kerja keras, ketekunan, dan keyakinan mampu membawa seseorang menembus batas sejarah sepakbola dunia.
Editor: Redaktur TVRINews



