Di tengah melambungnya biaya hidup, pendidikan tinggi kini seolah menjadi barang mewah. Universitas di Indonesia berlomba meningkatkan fasilitas melalui skema Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang kian mencekik. Padahal, bagi banyak mahasiswa, sekadar memenuhi kebutuhan perut sehari-hari saja sudah merupakan perjuangan.
“Untuk awal semester, yang paling memberatkan itu UKT, Rp7,5 juta. Dari SMP-SMA tidak ada pengeluaran besar, tiba-tiba masuk kuliah harus mengeluarkan biaya sebesar itu,” ujar Adam, alumni Universitas Diponegoro (Undip), saat ditemui di sebuah kafe di Tangerang Selatan, Minggu (14/12/2025).
Meski terbebani, Adam tetap melanjutkan kuliahnya. Dukungan orang tua menjadi bahan bakarnya untuk bertahan di tanah perantauan.
Selama kuliah di Undip, ia menceritakan salah satu beban hidup merantau di sana adalah perihal makan. Untuk menghemat pengeluaran, ia punya cara sendiri untuk berhemat, memangkas frekuensi makan.
“Makan itu gak harus tiga kali sehari. Kadang dua kali juga itu bisa. Makan itu juga gak harus beli, bisa cari di masjid, misalnya,” ucapnya.
Keberlangsungan kuliah Adam juga terbantu oleh beasiswa tempat tinggal dan keberaniannya mengajukan banding UKT melalui jalur prestasi. Ia menyodorkan sederet sertifikat penghargaan sebagai bukti bahwa dirinya layak dipertahankan oleh universitas.
“Saya waktu itu banding dengan prestasi-prestasi. Saya ngasih sertifikat-sertifikat saya. Saya mau bilang ke Undip, kalau kamu gak ngasih saya keringanan, saya bisa keluar nih,” tegasnya.
Tidak hanya itu, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi untuk menambah uang saku, hasil dari lomba yang ia ikuti menjadi penghasilan tambahan selama ia kuliah.
Kampusnya pun mendukungnya dengan memberikan reward atas hasil lomba-lomba yang sudah ia juarai. Di kampusnya juga sudah memberikan banyak peluang, tinggal mahasiswanya saja yang perlu mencoba memanfaatkan peluang itu.
“Mahasiswa tuh terlalu banyak ya, karena kalau kita cuma kelihatan susah-susah doang, lebih banyak yang lebih susah. Jadi, gimana sih cara kita diliriknya? Kita bisa cari beasiswa di kampus atau di luar, banyak beasiswa yang bisa diakses. Jadi, tinggal bagaimana caranya kita mendapatkan peluang itu kan, melihat peluang itu,” tambahnya.
Senada dengan pengalaman Adam, Dosen Pascasarjana Ekonomi Makro Universitas Pertahanan, Sri Iswati, menekankan bahwa kendala finansial seharusnya bisa diatasi dengan mencari informasi.
“Jika seorang anak punya tekad untuk maju, dia pasti mempersiapkan diri. Beasiswa itu sangat banyak, pemerintah dan universitas sudah menyediakannya untuk semua kalangan,” ujar Sri ketika diwawancara melalui Google Meet, Senin (22/12/2023).
Menurut Sri, pendidikan tinggi adalah tentang persiapan diri dan kejelian melihat peluang. Jika tidak mampu menembus universitas papan atas, masih banyak pilihan kampus lain yang menawarkan skema bantuan keuangan serupa. Akhirnya, biaya bukanlah tembok penghalang, melainkan tantangan bagi kemauan personal mahasiswa itu sendiri.





