Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan di Selasa (10/2). Hal ini terjadi seiring investor mencerna data penjualan ritel yang mengecewakan dan menunggu rilis laporan pasar tenaga kerja utama dari Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, Dow Jones Industrial Average menguat tipis 0,10% ke 50.188,14. Sementara S&P 500 turun 0,33% ke 6.941,81 dan Nasdaq Composite melemah 0,59% ke 23.102,47.
Baca Juga: Net Sell Masih Mengganas, Ini 10 Saham Sasaran Jual Asing
Sektor jasa komunikasi menjadi yang terlemah di S&P 500. Tekanan datang dari saham Alphabet. Ia turun setelah perusahaan tersebut mengumumkan penerbitan obligasi senilai US$20 miliar.
Langkah tersebut memperkuat kekhawatiran investor terkait besarnya belanja perusahaan teknologi untuk mendukung ekspansi kecerdasan buatan (AI). Amazon, Alphabet, Meta dan Microsoft diperkirakan akan menggelontorkan dana hingga ratusan miliar dolar pada tahu nini demi bersaing dalam dominasi AI.
Dari sisi data ekonomi, penjualan ritel secara tak terduga stagnan pada Desember. Rumah tangga mengurangi belanja kendaraan dan barang bernilai besar lainnya, mengindikasikan perlambatan pertumbuhan konsumsi dan ekonomi memasuki awal tahun. Angka tersebut meleset dari proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan 0,4%.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan yang lebih dovish dari bank sentral sedikit meningkat. Probabilitas pemangkasan suku bunga satu tingkat pada rapat selanjutnya naik menjadi 36,9%. Meski begitu, pasar masih memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga hingga Juni.
Kepala Strategi Investasi Janney Montgomery Scott, Mark Luschini menyebut data ritel yang lemah sebagai situasi kabar buruk yang menjadi kabar baik. Menurutnya, kondisi tersebut justru menguntungkan sektor sensitif suku bunga seperti utilitas dan properti.
Namun demikian, ia mengingatkan investor tetap berhati-hati menjelang rilis laporan nonfarm payrolls yang tertunda dan dijadwalkan keluar pada Rabu.
“Menjelang laporan tenaga kerja, tidak ada yang ingin mengambil risiko berlebihan jika angka yang keluar memicu kegelisahan pasar,” ujarnya.
Kekhawatiran pasar juga bertambah setelah mendengar peringatan dari Penasihat Ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett. Ia menyatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dipicu oleh perlambatan pertumbuhan angkatan kerja serta peningkatan produktivitas akibat adopsi AI.
Baca Juga: Bukan Digital Gold, Bitcoin (BTC) Justru Makin Mirip Saham Teknologi
“Ketika sebuah indeks kembali mendekati level tertinggi sebelumnya, biasanya ada fase tarik-menarik sebelum mampu menembus puncak tersebut,” kata Luschini.





