Hubungan Iran–Indonesia dan situasi global terkini menjadi sorotan dalam Resepsi Peringatan ke-47 Kemenangan Revolusi Islam Iran di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2) malam.
Acara yang dihadiri tokoh bangsa dan perwakilan diplomatik itu diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qori’ internasional Ali Nooraldin.
Dalam pidatonya, Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan Revolusi Islam Iran lahir dari kehendak rakyat untuk membebaskan negaranya dari dominasi asing.
“Saya bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan memperingati 47 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran, sebuah revolusi yang dibentuk oleh kehendak rakyat,” ujar Boroujerdi.
Boroujerdi menyinggung tekanan terhadap Iran yang menurutnya memuncak pada Juni 2025 melalui serangan langsung Israel yang diboncengi Amerika Serikat (AS) dan eskalasi situasi domestik.
“Upaya-upaya tersebut mencapai puncaknya pada Juni 2025 dengan serangan langsung oleh rezim Zionis dan AS terhadap Iran,” katanya.
Ia juga menekankan hubungan bilateral Iran–Indonesia yang dinilainya terus berkembang, sejalan dengan prinsip non-blok, dialog, dan saling menghormati yang dianut kedua negara.
Boroujerdi mengkritik sikap diam dan standar ganda lembaga internasional yang menurutnya menciptakan situasi rule of the jungle dalam tatanan global.
Saat memberikan keterangan kepada awak media, Boroujerdi menegaskan Iran tidak menaruh kepercayaan kepada AS, meski komunikasi diplomatik tetap berlangsung.
“Dialog tetap ada, tetapi kami tidak percaya AS. Prinsip kedaulatan dan kepentingan nasional Iran tidak bisa ditawar,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan di tengah kembali bergulirnya pembicaraan Iran dan AS di Oman pekan ini, termasuk soal program nuklir. Boroujerdi menegaskan Iran menolak konsep zero enrichment dan menekankan hak pengayaan uranium untuk tujuan damai.
Di sela acara, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menyebut pentingnya menjaga hubungan diplomatik Indonesia–Iran yang selama ini terjalin baik.
“Kita selalu menjaga hubungan diplomatik dan persahabatan, dan Iran adalah sahabat baik Indonesia,” kata Sultan kepada awak media.
Ia menekankan hubungan tersebut tidak hanya dibangun di level pemerintah atau parlemen, tetapi juga antarmasyarakat.
“Bukan hanya government to government atau parliament to parliament, tapi people to people contact itu penting dan harus terus dijaga,” ujarnya.
Sultan juga menegaskan posisi Indonesia yang tetap berpegang pada politik luar negeri bebas dan aktif serta tidak berpihak pada blok manapun.
Soal situasi terkini di Iran, Sultan menyebut kondisi relatif stabil berdasarkan komunikasi langsung dengan Dubes Iran.
Boroujerdi juga mengatakan warga Iran bersiap turun ke jalan untuk merayakan peringatan 47 tahun Kemenangan Revolusi Islam pada Rabu (11/2) pagi. Ia mengeklaim, demo pro pemerintah akan berjalan damai di tengah situasi penuh tekanan saat ini.





