Perkici Buru: Endemik Misterius Pulau Buru yang Nyaris Terlupakan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di jantung Pulau Buru, Maluku, hidup seekor burung kecil yang nyaris luput dari ingatan publik. Namanya Perkici Buru, atau Charmosynopsis toxopei, burung paruh bengkok mungil yang keberadaannya seperti legenda hidup. Ia endemik, langka, misterius, dan hampir tak terdokumentasi secara memadai dalam literatur populer Indonesia.

Secara ilmiah, Perkici Buru termasuk keluarga Psittacidae, tribus Lorini, kelompok nuri pemakan nektar. Nama lokalnya tidak banyak terdokumentasi karena minimnya interaksi masyarakat dengan spesies ini. Dalam literatur internasional, ia dikenal sebagai Blue-fronted Lorikeet, merujuk pada mahkota biru samar di kepalanya.

Burung ini pertama kali dicatat secara ilmiah pada 1921 oleh Hendrik Cornelis Siebers, seorang ahli serangga asal Belanda. Temuan itu kemudian dideskripsikan secara formal oleh Lambertus Johannes Toxopeus pada 1930. Fakta menariknya, penemuan ini tidak dilakukan oleh ahli burung, tetapi oleh peneliti serangga yang kebetulan menjelajah Buru.

Tubuh Perkici Buru kecil dan ramping, hanya sekitar 16 sentimeter. Warna dominan hijau cerah berpadu kuning lembut, dengan mahkota biru samar di bagian depan kepala. Pangkal ekor bagian bawah berwarna merah terang, menjadi ciri visual yang kontras.

Paruhnya bengkok kecil berwarna oranye, khas burung paruh bengkok nektarivor. Kakinya juga berwarna oranye dengan struktur kuat untuk bertengger dan memanjat ranting. Lehernya pendek, tubuhnya ringan, dan sayapnya ramping, menunjukkan adaptasi terbang jarak menengah.

Perbedaan jantan dan betina sangat halus. Mahkota biru pada jantan cenderung lebih cerah dan jelas. Betina memiliki warna lebih lembut dan samar, sehingga identifikasi kelamin sulit tanpa pengamatan detail.

Secara klasifikasi, burung ini berada dalam genus Charmosyna, yang berkerabat dekat dengan berbagai lorikeet Pasifik. Namun secara genetik dan geografis, ia terisolasi secara ekstrem. Isolasi pulau ini membuat evolusinya unik dan sangat spesifik.

Keistimewaan biologisnya terletak pada lidah berujung sikat. Struktur ini memungkinkan Perkici Buru mengisap nektar dan mengumpulkan serbuk sari secara efisien. Adaptasi ini khas lorikeet dan dijelaskan oleh Forshaw dalam Parrots of the World (William T. Forshaw, Parrots of the World, 2010).

Makanannya di alam liar berupa nektar bunga, terutama dari famili Myrtaceae, serbuk sari, dan buah lunak. Di penangkaran, burung ini tercatat memakan pisang dan cairan bergizi. Pola makannya sangat bergantung pada musim berbunga.

Tempat mencari makan biasanya di tajuk pohon berbunga, hutan primer, hutan sekunder, dan area perkebunan. Ia hidup dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Habitat ini menunjukkan fleksibilitas ekologis, tetapi juga kerentanan tinggi.

Perkici Buru bersifat nomaden lokal. Ia berpindah mengikuti ketersediaan pakan dan musim berbunga. Perilaku ini membuatnya sulit dipetakan populasinya secara pasti.

Burung ini terbang lurus, tidak terlalu cepat, tetapi stabil. Pola terbangnya efisien untuk jarak menengah, bukan akrobatik. Ia biasanya terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil hingga sepuluh individu.

Suaranya sangat khas, berupa jeritan melengking bernada tinggi. Polanya sering ditranskripsikan sebagai “ti-ti-ti-ti-ti”. Suara ini menjadi petunjuk penting identifikasi lapangan.

Tentang reproduksi, data ilmiah sangat terbatas. Secara umum, lorikeet bertelur dua butir dalam satu periode. Masa pengeraman berkisar 23 hingga 25 hari, berdasarkan pola spesies Lorini lain. Anak burung biasanya mandiri setelah dua hingga tiga bulan.

Umur hidupnya di alam liar belum terdokumentasi pasti. Namun lorikeet kecil umumnya hidup 10 hingga 15 tahun. Usia siap produksi biasanya sekitar satu tahun.

Sarangnya diduga berada di lubang pohon tinggi. Pola ini lazim pada burung paruh bengkok. Lokasi sarang sulit dipantau karena minimnya populasi terdeteksi.

Keberadaan ilmiah Perkici Buru sempat dianggap “antara ada dan tiada”. Smiet, dalam penelitiannya, mencatat spesies ini di hutan dataran rendah terganggu (Smiet, A.C., Forest Ecology and Management in Maluku, 1985). Data ini memperkuat dugaan bahwa ia hidup dekat aktivitas manusia.

Pada 2014 dan 2015, Craig Robson, pengamat burung asal Inggris, berhasil memotret spesies ini di Pulau Buru. Dokumentasi ini menjadi bukti visual modern pertama setelah puluhan tahun. Peristiwa ini mengakhiri spekulasi tentang kepunahannya.

Pada 2025, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia melakukan ekspedisi di Gunung Kapalat Mada. Penelitian ini bertujuan menelusuri keberadaan Perkici Buru berdasarkan data historis. Hasilnya nihil, menunjukkan betapa sulitnya mendeteksi spesies ini di alam.

Status konservasinya sangat mengkhawatirkan. IUCN menetapkannya sebagai Critically Endangered sejak 2000. Artinya, spesies ini berada di ambang kepunahan global.

Perlindungan hukum mengacu pada UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati. Hal ini juga diperkuat oleh Permen LHK No. P.106 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi. Secara hukum, Perkici Buru adalah satwa dilindungi penuh.

Ancaman utamanya adalah deforestasi, logging, dan fragmentasi habitat. Aktivitas perusahaan kayu telah mengubah lanskap ekologis Buru secara drastis. Habitat nektarivor menjadi semakin terfragmentasi.

Selain itu, minimnya data biologis membuat konservasi sulit dirancang. Tidak ada peta populasi, tidak ada estimasi individu, dan tidak ada data reproduksi lapangan yang solid. Ini membuat perlindungan berjalan dalam gelap.

Kehadiran spesies ini memiliki fungsi ekologis penting. Ia membantu penyerbukan pohon berbunga hutan tropis. Perannya sebagai agen penyerbuk alami jarang disadari publik.

Keistimewaan Perkici Buru bukan hanya biologis, melainkan juga simbolik. Ia adalah simbol rapuhnya endemisme pulau. Ia menjadi representasi spesies kecil yang terpinggirkan dalam narasi konservasi besar.

Pulau Buru bukan hanya tanah sejarah dan budaya, melainkan juga laboratorium evolusi. Di sanalah spesies seperti Perkici Buru berevolusi dalam sunyi. Ketika hutan hilang, bukan hanya pohon yang tumbang, melainkan juga sejarah biologis ikut lenyap.

Perkici Buru mengajarkan satu hal penting. Kepunahan sering terjadi bukan karena kebencian, melainkan karena ketidaktahuan. Spesies bisa lenyap tanpa pernah dikenal publik.

Menjaga Perkici Buru berarti menjaga ekosistem Pulau Buru. Menyelamatkannya berarti menjaga warisan biologis Indonesia Timur. Ia kecil, tetapi maknanya besar bagi konservasi.

Ia memang misterius. Namun, misteri itu bukan alasan untuk melupakannya. Justru karena misterius, ia layak dijaga lebih serius.

Jika suatu hari ia benar-benar hilang, dunia mungkin tidak gaduh. Namun, hutan Buru akan kehilangan satu nada dalam simfoni ekologinya dan kita akan kehilangan satu bagian kecil identitas alam Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Maruarar Siapkan Proyek Rusun Subsidi di Surabaya hingga Medan
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Pakai Promo Spesial BRI, Kini Nonton Film di XXI Jadi Bisa Lebih Hemat
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Persaingan Dunia Kerja Makin Ketat, Ini Pesan Menaker ke Anak Muda RI
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sjafrie Sjamsoeddin Masuk Bursa Pilpres 2029, Fernando Emas: Alarm Politik Seharusnya Berbunyi Keras di Istana
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Kronologi Kasat Narkoba Polres Bima AKP M Kuasai 488 Gram Sabu hingga Dipecat
• 16 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.