Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Rabu (11/2/2026) dengan penguatan signifikan, menambah 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp16.775 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya Rp16.811 per dolar AS.
Menurut Josua Pardede analis mata uang sentimen global masih menjadi penentu utama pergerakan rupiah.
“Investor tengah menanti rilis data pasar tenaga kerja AS atau non-farm payrolls (NFP) untuk memperoleh arah kebijakan The Fed di masa mendatang,” ujarnya dilansir dari Antara.
Antisipasi terhadap data NFP sangat tinggi. Pasar ingin mengetahui apakah sektor tenaga kerja AS mengalami pelemahan, menyusul data ketenagakerjaan sektor swasta dari ADP pekan lalu yang mengecewakan.
Sebelumnya, AS merilis data penjualan ritel Desember 2025 yang stagnan di angka 0,0 persen month-to-month (mom), lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen mom dan melambat dibanding November 2025.
“Hasil ini menunjukkan permintaan konsumen yang lemah, memperkuat kemungkinan The Fed mempertahankan sikap akomodatif dan menekan dolar AS,” kata Josua.
Di sisi domestik, Destry Damayanti Deputi Gubernur Bank Indonesia menegaskan bahwa bank sentral masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga kebijakan.
Ia menekankan bahwa keputusan tersebut akan mempertimbangkan kecepatan transmisi bunga acuan serta kondisi ekonomi terkini. “Semua kebijakan tetap data dependent,” kata Destry.
Berdasarkan dinamika global dan domestik, pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.850 per dolar AS dalam waktu dekat. (ant/saf/ipg)



