Fenomena self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri sebagai penderita Gastroesophageal Reflux Disease atau Gerd kian marak. Banyak orang mengaku mengidap Gerd hanya berdasarkan gejala dan informasi yang belum tentu terverifikasi. Kondisi ini mendorong dosen Universitas Brawijaya Malang mengembangkan platform deteksi dini berbasis digital.
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen Universitas Brawijaya (UB), Syifa Mustika, menciptakan situs web bernama SmartGerdX. Platform ini dirancang untuk membantu masyarakat memahami Gerd secara lebih akurat, sekaligus menyediakan panduan penanganan dan pencegahan.
“SmartGerdX adalah inovasi kesehatan yang bertujuan membantu masyarakat awam memahami Gerd. Masih banyak orang mengklaim dirinya mengalami Gerd tanpa dasar pemeriksaan yang jelas,” kata Syifa, Rabu (11/2/2026).
Platform ini bekerja melalui kuesioner berisi enam pertanyaan yang telah dimodifikasi. Pengguna diminta mengisi pertanyaan tersebut untuk memperoleh skor. Berdasarkan skor itu, sistem akan menampilkan rekomendasi, mulai dari penggunaan obat, hingga modifikasi gaya hidup.
Menurut Syifa, inovasi ini lahir dari pengalamannya sebagai praktisi gastroenterologi. Ia kerap menerima pasien yang datang dengan keyakinan telah menderita Gerd. Padahal, pasiwn itu belum pernah menjalani pemeriksaan medis.
“Sebagai praktisi, sering pasien datang dan mengatakan dirinya Gerd, padahal belum dilakukan penilaian klinis yang tepat,” ujarnya.
SmartGerdX dapat diakses melalui situs SmartGerdX.com. Platform ini telah diuji coba kepada 250 warga Banyuwangi pada Desember 2025. Implementasi tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.
“Kami bangga melihat inovasi ini langsung memperkuat layanan publik. SmartGerdX menunjukkan teknologi dapat membuat layanan kesehatan lebih inklusif, cepat, dan berbasis data,” kata Ipuk.
Dikembangkan sejak 2024, SmartGerdX juga masuk dalam 117 karya inovasi pilihan Business Innovation Center (BIC) Kementerian Riset dan Teknologi.
Inovasi ini menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi riset yang dibangun Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB. Direktorat tersebut bertugas memastikan riset dosen tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berlanjut ke perlindungan kekayaan intelektual, inkubasi, hingga penerapan di masyarakat.
Kepala Subdirektorat Inovasi dan Transfer Teknologi (PITT) UB, Dias Satria, menyebut inovasi Syifa sebagai contoh konkret riset yang berhasil dihilirisasi.
“Keahlian medis yang dibangun di lingkungan akademik difasilitasi oleh DIKST, lalu diimplementasikan di daerah yang memiliki kebutuhan nyata. Hasilnya bukan hanya teknologi, tetapi model kolaborasi kampus dan pemerintah daerah yang terukur dampaknya,” ujar Dias.
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Unti Ludigdo, menegaskan komitmen kampus mendorong inovasi berdampak langsung.
“Melalui DIKST, kami membangun jalur hilirisasi yang jelas agar riset benar-benar menjadi solusi nyata. Apa yang dilakukan dr Syifa di Banyuwangi adalah contoh ideal inovasi akademik yang memberi dampak langsung,” katanya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5499508/original/082729600_1770788021-suasana_jelang_imlek_di_daerah_depok.jpg)



