Ramainya proyek hilirisasi nasional yang akan digarap pemerintah tahun ini memberikan angin segar bagi sejumlah emiten di pasar modal. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan akan membangun 18 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai Rp 618,13 triliun.
Pengerjaan proyek-proyek tersebut tengah dipercepat dan ditargetkan mulai peletakan batu pertama atau groundbreaking paling lambat pada Maret 2026. Enam proyek di antaranya telah melakukan groundbreaking pada Jumat (6/2) lalu.
Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menilai, proyek hilirisasi Danantara berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten konstruksi, khususnya perusahaan pelat merah seperti PT PP Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).
“PTPP dan WIKA berpeluang mendapatkan kontrak baru dari pembangunan infrastruktur pabrik,” kata Wafi kepada Katadata, Selasa (10/2).
Selain emiten konstruksi, Wafi memperkirakan emiten hilirisasi seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga bakal diuntungkan karena memiliki keterkaitan langsung dengan rantai pasok proyek-proyek tersebut.
“Emiten hilirisasi seperti ANTM atau TPIA diuntungkan dari integrasi rantai pasok yang dapat menekan biaya sekaligus meningkatkan nilai tambah produk dalam jangka panjang,” ujarnya.
Sebelumnya dikabarkan bahwa salah satu proyek yang telah diresmikan adalah pembangunan dua fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) aluminium. Proyek pertama berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas produksi 600 ribu ton per tahun dan nilai investasi Rp 40,6 triliun.
Smelter di Mempawah ini dibangun oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bersama ANTM dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Ketiga perusahaan tersebut merupakan anggota holding BUMN industri pertambangan, MIND ID.
Selain itu, terdapat smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatra Utara, dengan kapasitas produksi 275 ribu ton per tahun.
Danantara juga membiayai proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini mulai dibangun pada 2020 oleh Inalum dan ANTM.
Setelah beroperasi, smelter alumina tersebut akan mengintegrasikan rantai pasok antara bijih bauksit dari Kalimantan Barat dengan pabrik peleburan aluminium milik Inalum. Produk alumina nantinya akan didistribusikan melalui Pelabuhan Kijing yang dikelola Pelindo.
SGAR tahap pertama memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun dengan nilai investasi Rp 10,7 triliun. Sementara SGAR tahap kedua juga berkapasitas 1 juta ton per tahun dengan nilai investasi Rp 14,8 triliun.
Berdasarkan penelusuran Katadata, hingga kini baik PTPP, WIKA, maupun TPIA belum mengumumkan afiliasi kontrak dengan proyek-proyek hilirisasi tersebut. Berbeda dengan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang sudah terang-terangan menyatakan keinginannya agar pemerintah mengambil pasok baja dari perusahaan untuk kebutuhan pembangunan proyek tersebut.
Direktur Utama KRAS, Akbar Djohan mengatakan, perusahaan produsen baja nasional seperti KRAS seharusnya dapat memperoleh keuntungan seiring ramainya proyek strategis nasional yang akan dibangun tahun ini. Antara lain seperti proyek 3 juta rumah, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), serta proyek strategis lainnya.




