Ikan boleh beterbangan di tengah samudra atau laut terdalam Nusantara. Namun, nelayan Galesong dan Mandar dari tanah Sulawesi tidak pernah kehilangan akal menangkapnya. Titel sebagai pemburu ikan terbang alias patorani belum lepas dari pundak mereka. Rayuan gombal mereka ikut mengantarkan tobiko sushi itu di meja makan kalian.
Kapal-kapal besar itu tampak bersandar di samping rumah warga, sepanjang pesisir Pantai Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan, Kamis (5/2/2026). Ada yang sedang dalam perbaikan dan ada yang sekadar dicat. Intinya, kapal-kapal milik para patorani itu tengah menunggu waktu untuk kembali ke lautan.
”Habis Lebaran, kami mulai jalan lagi mencari ikan terbang. Kalau sampai ke perbatasan Australia, bisa enam bulan di laut. Kalau sampai perairan Pangkep hingga di dekat Pulau Kalmas, biasanya paling lama tiga bulan sudah kembali. Tapi, rencana saya akan pergi ke perbatasan Australia,” kata Sampara Daeng Ago (65), seorang patorani.
Siang itu, Sampara, yang sudah lebih dari 45 tahun melaut, sedang memperbaiki kapal. Dia dibantu rekannya, Hasan Daeng Tompo (60).
Beberapa bagian kayu yang rusak di sisi lambung kapal diganti. Cat baru dipulas. Mesin kapal juga dipastikan dalam kondisi prima.
Sembari membereskan dan menyiapkan kapal, mereka juga akan membuat pakkaja, semacam jaring dari daun kelapa yang dikeringkan. Pakkaja ini akan diikat pada tali dan dibentangkan di permukaan laut untuk menjadi tempat ikan terbang bertelur.
Sampara dan Hasan hanya dua dari ratusan nelayan Galesong yang setiap tahun meninggalkan kampung untuk berburu ikan terbang. Yang diburu hanya telurnya. Kalaupun ikut diambil, ikannya sekadar untuk kebutuhan pribadi. Biasanya dibuat ikan asin.
Pada musim ikan terbang bertelur, kapal-kapal bergerak meninggalkan pesisir Galesong atau Teluk Mandar. Mereka melintasi tempat terdalam di Nusantara, mulai dari Laut Arafuru, Laut Flores, Laut Banda, perairan Fakfak, atau di sekitar Selat Makassar.
Musim bertelur ikan terbang biasanya antara April dan Oktober. Pelayaran berburu ikan terbang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan membuat perbekalan yang dibawa juga harus cukup. Tak hanya yang dibawa melaut, bekal yang ditinggalkan untuk keluarga pun harus cukup.
Untuk pelayaran selama enam bulan misalnya, sedikitnya 10 ton solar akan dibawa. Belum lagi kebutuhan seperti bekal bahan makanan dan keperluan lain selama di laut.
“Paling tidak kami harus menyiapkan biaya ratusan juta sekali jalan untuk pelayaran enam bulan. Kalau hasilnya banyak, modal kembali dan dapat untung,” kata Rudiyanto (36).
M Ridwan Alimuddin, pegiat dan peneliti maritim yang kerap melakukan ekspedisi pelayaran hingga ke luar negeri mengatakan, berburu ikan terbang bukan sekadar berlayar dan memasang perangkap.
Sejumlah ritual, doa, hingga perlakuan tertentu adalah hal lain yang diyakini menjadi kunci banyak tidaknya telur yang dibawa pulang.
Sebagai contoh, ikan terbang lazim disebut tuing-tuing pada Suku Makassar dan Bugis atau tuituing pada Suku Mandar. Namun sebutan ini tabu digunakan saat berburu telur ikan terbang atau pada musim ikan terbang bertelur.
“Maka nelayan di Galesong menamainya torani yang berasal dari kata to barani (orang berani). Nelayan Mandar mengganti nama ikan ini menjadi to manurung (orang yang diturunkan dari langit) atau mara’dia (raja/bangsawan),” kata Ridwan yang pernah beberapa kali ikut mencari ikan terbang.
Patorani lazimnya merujuk pada nelayannya (pemburu). Bisa juga kapal yang digunakan. Pada Suku Mandar, sebutan untuk nelayan pemburu ikan terbang lebih beragam, diantaranya potangnga dan pattalloq. Aktivitasnya disebut motangnga atau mattalloq.
Motangnga berarti menengah atau ke tengah. Hal ini karena nelayan biasanya pergi ke tengah laut, memasang jaring dan dan menunggu jaring terisi.
Sementara pattalloq lebih aktif karena mereka tidak sekadar menunggu jaring terisi tapi mencari pada benda-benda hanyut yang ditempati ikan bertelur.
Perihal penyebutan ikan ini yang berbeda pada hari biasa dan musim bertelur, disebut semacam penghormatan pada ikan terbang. Perlakuan istimewa ini diyakini sebagai cara membujuk ikan terbang agar mau bertelur di jaring yang telah disiapkan.
Saat di tengah laut, ada lagi perlakukan lain yang intinya memancing ikan terbang bertelur lebih banyak. “Pada nelayan Mandar biasanya menggunakan kata atau kalimat yang sifatnya porno bahkan vulgar. Ini diyakini akan merangsang ikan jantan membuahi ikan betina. Percaya atau tidak, biasanya cara ini dinilai ampuh membuat ikan terbang bertelur lebih banyak,” kata Ridwan.
Jika nelayan Mandar berkata mengeluarkan pau-pau macca semacam mantra berbau porno, maka nelayan Galesong melancarkan rayuan gombal atau membujuk ikan terbang dengan kidung. Bujukan dan gombalan juga diyakini sebagai cara meminta ikan bertelur lebih banyak.
Dalam praktiknya, berburu ikan terbang dilakukan dengan cara membentang tali sepanjang ratusan meter. Pakkaja atau jaring diikat pada tali tersebut. Biasanya setiap 10 meter ada satu jaring yang diikat.
“Di kapal besar yang dibawa nelayan biasanya mereka membawa sampan. Setiap pagi sampan diturunkan lalu digunakan untuk berkeliling mengecek jaring apakah sudah terisi telur atau tidak. Jika sudah ada, langsung diangkat dan jaring dipasang kembali. Begitu seterusnya hingga musim bertelur selesai,” jelas Ridwan.
Jika pelayaran menuju lokasi perburuan akan berhadapan dengan gelombang dan angin, maka saat perburuan dimulai, nelayan biasanya lebih pasif. Mereka akan sibuk hanya saat memasang jaring dan mengumpulkan telur serta menjemur dan mengepak telur ikan. Selebihnya dihabiskan dengan menunggu.
Telur ikan yang telah dipanen nantinya akan langsung dijemur di kapal. Perburuan ikan terbang yang biasanya dilakukan pada musim angin timur atau kemarau, membuat proses pengeringan menjadi lebih cepat.
Dalam buku Laut, Ikan, dan Tradisi Kebudayaan Bahari Mandar yang ditulis Ridwan, ikan yang yang banyak diburu adalah jenis ikan pelagis kecil. Habitatnya di lapisan permukaan dan lebih banyak ditemukan di perairan lepas pantai yang berkadar garam tinggi.
Ikan ini membentuk schooling (kelompok) dalam jumlah yang banyak dan menghuni lapisan permukaan perairan tropik dan subtropik. Mereka bergerak dari Samudera Pasifik, Hindia, hingga Samudera Atlantik.
Batas wilayah sebaran paling selatan mulai dari Brasil sampai Tanjung Harapan, melalui Tasmania dan Selandia Baru dan berakhir di Chili.
Sebarannya dari utara Samudera Pasifik bermula dari bagian selatan perairan Jepang melintasi Selat Tsagaru ke pantai California dan di Samudera Atlantik mulai dari Cape Cod ke Semenanjung Siberia.
Adapun di perairan Indonesia, penyebarannya meliputi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Laut Banda, dan Laut Cina Selatan. Di perairan Indonesia terdapat 18 jenis ikan terbang, kebanyakan dari marga (genus) Cypselurus sp.
“Dahulu yang diburu ikannya. Telurnya hanya dibagi-bagi. Mulai akhir tahun 70-an atau awal 80-an, nelayan baru berburu telurnya. Ini setelah banyak permintaan dari Jepang dan Tiongkok dan telur ikan lebih punya nilai ekonomis. Makanya sekarang terbalik, telurnya diburu, ikannya lebih ke kebutuhan pribadi atau dibagi-bagi,” jelas Ridwan yang mengikuti jejak pelayaran Padewakang dari Makassar ke Australia pada akhir 2019.
Pada akhirnya, telur-telur ikan tak lagi dijual dalam keadaan sekadar kering, tapi sudah melalui proses pengolahan hingga menjadi butiran berwarna kuning keemasan. Telur ini yang kemudian dijadikan tobiko untuk pelengkap sushi hingga kimbab.
Dari rayuan gombal di tengah lautan terdalam, telur-telur ikan terbang dikumpulkan. Semua demi mengantarkan kenikmatan di meja makan kalian.





