Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, membuka peluang kajian pembebasan visa dengan Uni Emirat Arab (UEA). Kajian terkait bebas visa secara timbal balik serta kerja sama penerbangan.
"Khususnya untuk mendukung peningkatan layanan jamaah umrah," kata Yusril dikutip dari Antara, Rabu, 11 Februari 2026.
Hal tersebut diungkap Yusril dalam pertemuan bilateral dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia. Di bidang keimigrasian dan transportasi udara, Yusril menyambut baik meningkatnya mobilitas masyarakat kedua negara.
Yusril pun mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin, khususnya di bidang perdagangan serta energi minyak dan gas. Yusril juga menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pentingnya penguatan kerja sama bilateral di berbagai sektor strategis.
Baca Juga :Komisi Reformasi Polri Susun Rekomendasi, Yusril: Ditargetkan Selesai Januari
“Pembentukan Danantara sebagai lembaga investasi pemerintah serta kerja sama dengan Dubai Fund diharapkan dapat mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Yusril.
Yusril menegaskan kerja sama Indonesia dan UEA berpotensi diperluas ke bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan kesehatan. Yusril turut mengapresiasi dukungan UEA dalam pembangunan masjid dan fasilitas kesehatan, serta berharap kerja sama di bidang kedokteran dapat ditingkatkan untuk mengatasi keterbatasan dokter dan rumah sakit berteknologi tinggi di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Dubes UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhahheri, menyatakan, Etihad Airways tengah merencanakan pembukaan penerbangan langsung Abu Dhabi–Medan dan Abu Dhabi–Surabaya.
Sementara, lanjut Yusril, Emirates Airlines sedang mengurus perizinan pengoperasian pesawat berbadan lebar guna meningkatkan konektivitas penerbangan Indonesia–UEA.
Pertemuan Menko Yusril dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia. Foto: Antara
Ia menegaskan, hubungan bilateral Indonesia–UEA terus berkembang signifikan. Ia menyampaikan Presiden RI sudah tiga kali berkunjung ke UEA serta kedua negara telah memperingati 50 tahun hubungan bilateral, dengan rencana kunjungan presiden UEA ke Indonesia dalam waktu mendatang.
“Hubungan bilateral yang sebelumnya berfokus pada sektor tradisional seperti pelabuhan dan minyak kini telah berkembang ke sektor strategis, antara lain energi terbarukan, pertahanan, kesehatan, dan pendidikan,” ungkap dia.
Ia mencontohkan sejumlah kerja sama konkret, seperti pendirian rumah sakit jantung di Solo, pengembangan pusat studi bakau di Bali, serta kerja sama pendidikan antara Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dan Universitas Zayed di bidang humaniora, yang diharapkan dapat membuka lapangan kerja dan mendorong alih pengetahuan.
Ia turut mengapresiasi kemudahan layanan keimigrasian bagi warga negara UEA yang jumlahnya terus meningkat. Meski demikian, ia mencatat masih terdapat potensi kerja sama yang perlu diperkuat, termasuk di sektor panas bumi bersama PT Pertamina (Persero) Tbk., yang saat ini belum sepenuhnya bersifat bilateral.




