MENTERI Haji dan Umrah (Menhaj) Moch. Irfan Yusuf menegaskan komitmen pemerintah memperkuat pelayanan haji Indonesia melalui empat program strategis, yakni penurunan biaya haji, penataan kebijakan waiting list, penguatan ekspor produk Indonesia untuk kebutuhan haji, serta pembangunan Kampung Haji sebagai pusat layanan jemaah di Arab Saudi.
Pernyataan itu disampaikan Gus Irfan saat Manasik Haji Nasional di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (11/2).
“Penurunan biaya haji tidak berarti menurunkan kualitas layanan. Justru efisiensi yang kami lakukan diarahkan untuk memastikan layanan tetap optimal dan hak jemaah tetap terpenuhi,” kata Irfan.
Baca juga : Resmi Dikukuhkan, Menhaj Ingatkan Integritas dan Disiplin Petugas Haji
Irfan menyebut kebijakan waiting list terus dibenahi agar lebih transparan dan adil. Sementara penguatan ekspor produk Indonesia diposisikan sebagai bagian dari upaya mendorong sukses ekonomi haji. Adapun pembangunan Kampung Haji, lanjutnya, diharapkan menjadi simbol kehadiran negara sekaligus pusat layanan yang memudahkan jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Dalam kesempatan itu, Irfan juga menekankan penyesuaian kebijakan haji dengan demografi jemaah. Ia menyampaikan data yang menunjukkan 56% jemaah haji Indonesia merupakan perempuan, sehingga penguatan layanan serta penambahan petugas pembimbing ibadah perempuan menjadi kebutuhan.
“Haji harus ramah, aman, dan manusiawi. Lansia, disabilitas, dan perempuan harus merasa dilayani, bukan disulitkan,” ujarnya.
Baca juga : Manasik Haji Digelar 5 Kali? Ini Alasan Menteri Haji Gus Irfan
Selain itu, Irfan menyoroti pentingnya kesiapan kesehatan jemaah sebagai bagian dari konsep istithaah atau syarat kemampuan berhaji. Ia menjelaskan istithaah mencakup tiga aspek, yaitu istithaah syar’iyah berupa pemahaman manasik, istithaah maliyah terkait kemampuan pembiayaan, serta istithaah shihiyyah yang menekankan kesiapan kesehatan.
“Haji adalah ibadah yang sakral. Jemaah harus benar-benar siap secara ilmu, fisik, dan mental. Kesadaran membangun pola hidup sehat menjadi bagian dari ibadah itu sendiri,” tuturnya.
Menhaj juga mendorong jemaah agar lebih mandiri dalam beribadah dan tidak sepenuhnya bergantung pada pihak lain, termasuk KBIHU, melainkan mengandalkan kekompakan kelompok masing-masing.
Menurutnya, Manasik Haji Nasional merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan Tri Sukses Haji, yakni sukses ritual, sukses ekonomi, serta sukses keadaban dan peradaban.
“Haji bukan hanya soal sahnya ibadah, tetapi juga tentang nilai, etika, dan peradaban yang dibawa jemaah sebagai duta bangsa,” kata Menhaj. (Z-10)





