Mgr Hans Monteiro Ditahbiskan Jadi Uskup Larantuka, Kemiskinan Ekstrem Disinggung 

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS - Mgr Yohanes Hans Monteiro ditahbiskan menjadi uskup Larantuka. Ia memimpin umat Katolik di Kabupaten Flores Timur dan Lembata di Nusa Tenggara Timur. Peran gereja yang senantiasa berdiri bersama kaum lemah, termasuk miskin ekstrem, terus diingatkan kepada semua pemimpin gereja di daerah itu.

Pesan itu disampaikan dalam perayaan tahbisan di Katedral Larantuka, Flores Timur, Rabu (11/2/2026). Perayaan turut disiarkan langsung pada akun YouTube Komsos Konferensi Wali Gereja Indonesia.

Perayaan diikuti oleh puluhan uskup, ratusan imam, dan ribuan umat Katolik. Hadir pula Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua DPRD NTT Emelia Nomleni, dan sejumlah pejabat daerah. Tampak umat agama lain ambil bagian dalam sukacita tersebut. Nuansa persatuan warga setempat begitu melekat dalam ikatan budaya Suku Lamaholot.

Uskup Hans ditahbiskan oleh Uskup Emeritus Mgr Fransiskus Kopong Kung yang sebelumnya memimpin Keuskupan Larantuka sejak 2004. Kopong mengajak semua umat, para imam,  biarawan-biarawati, serta pemerintah agar berjalan bersama Uskup Hans. Hans merupakan putra asli Larantuka. Ia tumbuh dan dibesarkan di daerah itu.

Mgr Michael A Pawlowicz, perwakilan dari Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia menyampaikan terima kasih kepada Uskup Emeritus Kopong Kung yang selama 40 tahun mengabdikan diri bagi gereja. Uskup baru akan meneruskan karya-karya baik yang ditinggalkan Kopong.

Ia juga mengucapkan selamat kepada Uskup Hans. "Monsinyur Hans, Paus Leo XIV (pemimpin umat Katolik sedunia) memilih Anda sebagai uskup untuk mengasihi Gereja Kristus dan untuk menjadi gambaran kasih Bapa yang hidup bagi kita semua. Saya percaya bahwa Anda akan melakukan hal ini dengan semangat dan kemurahan hati," kata Michael.

Serial Artikel

Pelajaran dari Anak SD Bunuh Diri, Jangan Permainkan Data Orang Miskin 

Cirma, sebuah lembaga nonpemerintah, mengembangkan sistem pendataan warga miskin dan miskin ekstrem. Pendataan dilakukan langsung dari lapangan.

Baca Artikel
Kemiskinan Ekstrem 

Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden dalam khotbah mengulas tentang moto tahbisan Uskup Hans, yakni Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Harapan. Menurut Budi, moto ini menyentuh semua kelompok dan mengajak seluruh umat. Moto ini menyadarkan bahwa apapun perbedaan, manusia hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. 

Dari sisi lain, Budi memandang bahwa moto ini membuka mata manusia untuk melihat betapa ada jurang yang terbentang. Jurang yang kian lebar antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan mereka yang merana dalam kemiskinan ekstrem. 

"Antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpental ke wilayah pinggiran. Kita sering membangun tembok pemisah dari orang yang berbeda suku dan pilihan politik. Kita hidup dalam kecurigaan yang laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain," kata Budi.

Sementara itu, Uskup Hans mengatakan, menjadi seorang uskup bukan oleh kehendaknya sendiri, melainkan oleh panggilan dan rahmat Allah melalui gereja-Nya. Tahbisan episkopal bukan  suatu kehormatan pribadi, melainkan sebuah pelayanan bagi gereja.

"Bagi gereja lokal Keuskupan Larantuka, tahbisan ini menegaskan bahwa Kristus sendiri terus menyertai umat-Nya sejak benih iman ditaburkan oleh para misionaris Dominikan, Jesuit, dan Serikat Sabda Allah, hingga pertumbuhan iman hari ini yang dijaga dan dihidupi oleh umat," katanya.

Gereja Katedral Larantuka, tempat berlangsungnya tahbisan uskup, berkesan bagi Hans. Di Katedral itu, Hans dipermandikan, tempat ia menerima komuni pertama, tempat ia menerima sakramen tobat pertama, tempat ia menerima sakramen krisma, tempat ia ditahbiskan menjadi imam.

Secara khusus itu menyapa para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Mereka masih tinggal di hunian sementara dalam genangan lumpur dan ketidakpastian masa depan. Juga warga di sekitar Gunung Ile Lewotolok di Lembata yang masih fluktuatif. "Dalam situasi ini, gereja dipanggil untuk hadir mendengarkan dan menemani dengan kasih," katanya.

Serial Artikel

Dua Tahun Derita Penyintas Lewotobi...

Setelah masa tanggap darurat berakhir, bantuan bagi penyintas pun berkurang. Sementara itu, pembangunan hunian tetap direncanakan tahun depan.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Defend ID Bakal Serap Rp30 Triliun untuk Modernisasi Alutsista di 2026
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Buntut Kasus Dugaan Suap Ekspor CPO, Kemenperin Perkuat Pengawasan Internal
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Debat Panas Purbaya vs Trenggono, Saling Tuding Soal Anggaran Kapal: Tanya Dulu Anak Buah Anda
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Hormati Gugatan AMPHURI, Wamenhaj: Itu Hak Warga Negara
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Cara Mudah Pulihkan Akun Google yang Sudah Telanjur Dihapus
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.