Moms, pernahkah Anda terpikir, kenapa suami terlihat seperti sosok yang berbeda saat di kantor dan di rumah? Di kantor ia selalu sigap, berpikir taktis, bijak dalam bersikap, hingga jago memecahkan masalah.
Tapi, entah kenapa giliran di rumah jadi nggak tertib, bahkan nggak mandiri. Misalnya, naruh handuk sembarangan, pakai pasta gigi tidak ditutup lagi, ngabisin es batu nggak diisi ulang, dan masih banyak perilaku 'aneh' lainnya di rumah.
Bikin gemas, ya, Moms. Rasanya kontras sekali. Nah ternyata, ini ada pejelasan ilmiahnya, lho!
Alasan Suami Sigap di Kantor tapi Tidak saat di RumahMengutip Frontiers in Psychology hal ini berkaitan dengan cara kerja otak, kebiasaan, dan pola peran yang terbentuk sejak lama. Secara psikologis, ada beberapa alasan ilmiah yang menjelaskan kenapa perilaku ini bisa terjadi.
1. Otak Bekerja Berdasarkan Konteks
Psikologi kognitif mengenal istilah context-dependent behavior atau perilaku yang dipengaruhi lingkungan.
Artinya, otak kita otomatis “mengganti mode” sesuai tempat, Moms. Di kantor: fokus, detail, waspada, banyak tanggung jawab. Di rumah: merasa aman, santai, energi mental turun.
Ketika seseorang sudah merasa berada di “zona nyaman”, fungsi eksekutif otak—seperti mengingat detail kecil, merapikan barang, atau mengorganisir hal sepele—jadi tidak sekuat saat bekerja.
Itulah kenapa, hal kecil seperti naruh handuk pada tempatnya terasa tidak mendesak. Bukan tidak mampu, tapi karena otaknya saja sedang “mode hemat energi”.
2. Efek Kelelahan Mental setelah Bekerja
Seharian membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir strategis bisa menyebabkan cognitive fatigue atau kelelahan mental.
Saat lelah, otak cenderung memilih cara paling cepat, menunda hal kecil, hingga meletakkan barang asal-asalan.
Jadi alih-alih berjalan lima langkah ke tempat menjemur handuk, tangan otomatis meletakkan di gantungan kamar mandi, gagang pintu, atau benda apa pun yang paling dekat. Ternyata, itu respons yang wajar, bukan kemalasan semata.
3. Soal Kebiasaan, Bukan Kecerdasan
Banyak orang mengira: pintar kerja = otomatis rapi di rumah.
Padahal, skill dan kebiasaan itu berbeda. Rapi di kantor adalah skill profesional yang terlatih karena tuntutan kerja.
Sedangkan merapikan rumah adalah habit—yang terbentuk dari pembiasaan harian. Kalau sejak kecil tidak dibiasakan meletakkan handuk pada tempatnya, merapikan barang-barang yang selesai digunakan, peka pada detail rumah tangga, maka otak memang tidak menganggap itu sebagai “prioritas penting”.
Jadi ini lebih ke pola belajar, bukan kapasitas otak.
4. Beban Mental Rumah Tangga Sering Tidak Terlihat
Ada juga faktor yang disebut mental load atau beban mental domestik. Ini bukan sekadar mengerjakan tugas rumah, tapi mengingat stok sabun habis, mengingat cucian belum dijemur, jadwal les anak, stok makanan habis, dan lain-lain, itu bukanlah hal sepele.
Penelitian tentang mental labor menunjukkan beban mengingat dan mengatur hal-hal kecil ini sering kali ditanggung satu pihak saja di rumah.
Jika seseorang tidak terbiasa memegang “daftar tak terlihat” itu, kepekaan terhadap detail rumah tangga pun tidak terlatih. Akhirnya terlihat seperti “cuek”, padahal sebenarnya belum terbiasa memikirkan.
Jadi, Apa Solusinya?
Daripada menyimpulkan “kok suamiku oon sih?”, bisa coba dengan pendekatan lain. Seperti membantu melihatnya sebagai masalah sistem dan kebiasaan.
Salah satu cara yang lebih efektif bisa dengan membiasakan rutinitas kecil setiap hari. Karena sebetulnya kebiasaan bisa dilatih, bukan sifat bawaan, Moms.




