JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan polusi udara masih menjadi pekerjaan rumah terbesar Jakarta.
Di tengah klaim perbaikan penanganan banjir dan sampah, ia mengakui kualitas udara belum tertangani optimal.
“Persoalan polusi ini klasik dan jujur belum terselesaikan dengan baik,” ujar Pramono dalam Townhall Meeting di M Bloc, Kebayoran Baru, Selasa (10/2/2026), dikutip dari situs resmi Pemprov DKI Jakarta.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menyiapkan tiga pendekatan utama yang difokuskan pada sektor transportasi dan pengelolaan sampah, dua kontributor besar emisi di Jakarta.
Baca juga: Pramono Buka Peluang Pengadaan Truk Sampah Listrik untuk Kurangi Polusi Udara
Perluasan Transportasi PublikStrategi pertama adalah memperluas jaringan layanan Transjabodetabek guna menekan penggunaan kendaraan pribadi.
Sejumlah rute lintas wilayah telah dibuka, seperti Blok M–Alam Sutera dan Blok M–PIK 2, serta rencana rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Pemprov juga mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum, termasuk dengan kebijakan tarif gratis bagi 15 golongan tertentu.
Saat ini, konektivitas transportasi Jakarta diklaim mencapai 92 persen, menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan kedua di ASEAN setelah Singapura.
Langkah ini dinilai krusial karena sektor transportasi menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Jakarta.
Baca juga: Nasib Pensiunan Guru di Cilincing, Jadi Pemulung Usai Tertipu Rp 300 Juta
Target 10.000 Bus Listrik pada 2030Selain memperluas jaringan, Pemprov DKI menargetkan pengoperasian 10.000 unit bus listrik Transjakarta pada 2030. Elektrifikasi armada diharapkan menekan emisi secara signifikan.
“Kalau itu bisa dilakukan, kontribusi emisi bisa berkurang secara signifikan,” kata Pramono.
Transformasi ini menjadi bagian dari transisi energi di sektor transportasi massal, sekaligus upaya jangka panjang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Baca juga: Lansia yang Dituduh Jukir Liar Warung Bakso di Cilincing merupakan Pensiunan Guru
Modernisasi Pengelolaan Sampah dan Truk ListrikStrategi ketiga menyasar sektor persampahan. Pemprov mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pertengahan tahun ini.
Selain itu, Pemprov membuka peluang pengadaan truk sampah listrik mulai 2026.
Saat ini, jumlah armada listrik masih sangat terbatas, kurang dari 10 unit, karena tantangan kebutuhan daya besar, terutama untuk truk jenis compactor.





