Tahun lalu, 5.976 warga Suriah mengajukan repatriasi sukarela ke Suriah yang didanai oleh Kantor Federal Jerman untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF), dengan menyerahkan seluruh dokumen yang diperlukan. Dari jumlah tersebut, 3.678 orang telah kembali ke negara asal mereka.
Bagi Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, hal ini menjadi bukti kebijakan migrasi yang ia dorong: "Mereka yang tidak memiliki prospek untuk tinggal akan menerima dukungan yang ditargetkan untuk repatriasi sukarela mereka."
"Dukungan yang ditargetkan" ini mencakup biaya penerbangan serta €1.000 (sekitar Rp19,6 juta) per orang dewasa dan €500 (sekitar Rp9,8 juta) untuk anak di bawah umur. BAMF meluncurkan kembali program untuk Suriah setahun lalu setelah sempat dihentikan akibat perang di negara Timur Tengah tersebut. Jumlah orang yang ingin kembali meningkat sejak tergulingnya diktator Bashar Assad pada akhir 2024.
Dalam siaran pers, BAMF menulis: "Sebanyak 16.576 orang telah dibantu untuk kembali ke negara asal mereka atau ke negara ketiga yang bersedia menerima mereka. Ini merupakan peningkatan signifikan dalam jumlah keberangkatan dibandingkan tahun sebelumnya, ketika 10.358 orang meninggalkan negara ini. Pada 2025, mayoritas keberangkatan sukarela menuju negara asal Turki, Suriah, Federasi Rusia, Georgia, dan Irak."
Suriah pascaperang: kerusakan infrastruktur dan krisis sosialNamun, apakah kepulangan sukarela ke Suriah ini merupakan kisah sukses? Ketua Partai Kiri, Iris Schwerdtner, menegaskan bahwa Suriah masih mengalami kondisi yang menyerupai perang saudara dan bahwa Jerman seharusnya tidak mendeportasi siapa pun ke negara tersebut maupun mendorong orang untuk kembali secara sukarela.
Ia menyatakan bahwa seluruh perdebatan mengenai isu ini sepenuhnya "tidak tepat pada saat ini."
Sandra Lorenz, kepala komunikasi Johanniter International Assistance, sebuah organisasi bantuan yang bekerja dengan mitra di Suriah barat laut, mengatakan kepada DW bahwa ia dapat memahami mengapa orang ingin kembali ke tanah air mereka.
"Kita juga melihat ini di Ukraina, bahwa orang tetap ingin kembali ke desa mereka meskipun ada serangan. Itu sepenuhnya normal," katanya. "Tetapi situasi yang akan mereka hadapi harus jelas. Di banyak wilayah, infrastruktur telah hancur total. Dan orang-orang yang tinggal di sana saat ini terus-menerus mengungsi akibat pertempuran yang masih berlangsung."
Lorenz menjelaskan bahwa situasi di kota Aleppo dan Afrin, yang sebagian besar hancur, tentu berbeda dari situasi di ibu kota Damaskus. Namun kondisi kemanusiaan secara umum serupa di mana-mana dan sangat sulit, dengan kebutuhan rekonstruksi yang sangat besar, juga akibat gempa bumi dahsyat tiga tahun lalu. Johanniter International Assistance secara khusus memberikan dukungan untuk memulihkan infrastruktur serta memasok rumah sakit dengan bahan bakar, air minum, dan obat-obatan.
"Ada ratusan ribu orang yang bergantung pada bantuan pangan, dan yang membutuhkan dukungan untuk kembali mendapatkan akses terhadap air, perumahan yang layak, dan penghasilan," ujar Lorenz. "Di Suriah, seperti di zona perang lainnya, situasinya tidak lagi sama seperti 14 tahun lalu. Saya hanya bisa berharap bahwa orang-orang telah mencari informasi tentang hal ini, bahwa mereka telah berbicara dengan seseorang, bahwa mereka memiliki tempat tujuan atau kenalan yang bisa mereka datangi sebagai permulaan."
Dukungan Jerman untuk membangun kembali rumah sakitNahla Osman, pengacara sekaligus wakil presiden Asosiasi Organisasi Bantuan Jerman-Suriah (VDSH), merupakan bagian dari delegasi yang mengunjungi Suriah, termasuk perwakilan dari Deutsche Gesellschaft fr Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), serta KfW, bank pembangunan Jerman.
"Di Harasta, pinggiran Damaskus, tidak ada satu pun rumah yang layak huni atau memenuhi standar minimum untuk ditinggali," kata Osman kepada DW. "Lebih dari 80% sekolah di Suriah telah hancur. Pada saat yang sama, terdapat kekurangan besar hampir di segala bidang, terutama obat-obatan dan peralatan medis. Menteri kesehatan mengatakan kepada kami bahwa beberapa peralatan hanya ada satu, kadang dua unit saja di seluruh Suriah."
Salah satu prioritas Jerman dalam bantuan rekonstruksi untuk Suriah adalah membantu menghidupkan kembali rumah sakit Suriah. Selama kunjungan delegasi tersebut, sebuah perjanjian ditandatangani dengan lima klinik terkait hal ini.
Osman mengatakan bahwa ia tidak memahami perdebatan di Jerman mengenai kembalinya warga Suriah ke Suriah.
"Sebagian besar warga Suriah telah terintegrasi di sini, mereka berbicara bahasa Jerman dan bekerja," katanya. "Banyak yang memang bermimpi untuk kembali, tetapi tentu saja bukan dalam kondisi saat ini."
Menurutnya, perdebatan tersebut tidak cukup bernuansa dan sering dibingkai dengan cara: "Semua warga Suriah harus kembali, mengambil sekop, dan membangun kembali negara mereka." Menurutnya, bukan seperti itu seharusnya perdebatan dilakukan di negara imigrasi.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha
width="1" height="1" />
Tonton juga video "Trump Ngaku Bicara dengan Presiden Suriah di Tengah Gencatan Senjata"
(ita/ita)




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F12%2F11%2F5d33d0afa0d2c3d63026d7be838b0ba1-WhatsApp_Image_2025_12_11_at_16.31.54.jpeg)
