Waspada Penyakit Ginjal di Usia Muda, Kok Bisa?

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini semakin sering ditemukan pasien penyakit ginjal yang masih berusia 20–40 tahun. Padahal dulu, penyakit ginjal kronik identik dengan usia lanjut. Kini, mahasiswa, pekerja muda, bahkan remaja mulai mengisi ruang perawatan ginjal di rumah sakit. Banyak dari mereka datang sudah dalam kondisi berat dan harus menjalani cuci darah rutin.

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara perlahan dan tidak bisa kembali normal. Ginjal seharusnya menyaring racun, mengatur cairan tubuh, dan menjaga tekanan darah. Saat ginjal rusak, limbah menumpuk dalam tubuh dan mengganggu hampir seluruh organ. Masalahnya, PGK sering berkembang tanpa gejala. Banyak orang merasa sehat sampai akhirnya kerusakan sudah parah.

Lalu, kenapa anak muda kini semakin banyak terkena penyakit ginjal?

Perubahan gaya hidup menjadi faktor utama. Diabetes tipe 2 yang dulu identik dengan usia di atas 40 tahun kini semakin sering ditemukan pada usia muda. Konsumsi minuman manis, makanan tinggi gula, serta obesitas sejak remaja berperan besar. Hal yang sama terjadi pada tekanan darah tinggi. Pola makan tinggi garam, kurang olahraga, tidur tidak teratur, dan stres membuat hipertensi muncul lebih dini. Padahal, diabetes dan hipertensi merupakan dua penyebab terbesar kerusakan ginjal.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi obat secara bebas juga ikut mempercepat kerusakan ginjal. Banyak anak muda sering minum obat pereda nyeri tanpa pengawasan dokter, mengonsumsi suplemen berlebihan, atau memakai jamu dan herbal yang tidak jelas kandungannya. Zat-zat tertentu bisa bersifat toksik bagi ginjal jika dikonsumsi terus-menerus.

Gaya hidup modern turut memperburuk keadaan. Kurang minum air putih, sering begadang, konsumsi makanan instan tinggi garam, merokok, dan penggunaan vape merusak pembuluh darah, termasuk yang ada di ginjal. Pada sebagian orang, penyakit bawaan seperti ginjal polikistik atau gangguan autoimun seperti lupus juga bisa menyebabkan kerusakan ginjal sejak usia muda.

Yang membuat PGK berbahaya adalah sifatnya yang “diam-diam”. Pada tahap awal, hampir tidak ada keluhan. Banyak orang tetap beraktivitas normal meski fungsi ginjalnya sudah turun cukup jauh. Gejala seperti mudah lelah, mual, bengkak di kaki atau wajah, dan tekanan darah yang sulit dikendalikan biasanya baru muncul saat kerusakan sudah berat. Tak jarang pasien baru datang ke rumah sakit ketika sudah memerlukan cuci darah.

Dampaknya bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga kehidupan sehari-hari. Pasien yang harus menjalani cuci darah biasanya melakukannya dua hingga tiga kali seminggu selama beberapa jam. Aktivitas kerja terganggu, penghasilan menurun, dan kualitas hidup ikut terpengaruh. Bagi pelajar dan mahasiswa, kondisi ini sering membuat pendidikan terhambat. Beban psikologis bagi pasien dan keluarga pun tidak kecil.

Kabar baiknya, penyakit ginjal kronik sebenarnya bisa dicegah dan diperlambat. Deteksi dini sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, atau kebiasaan mengonsumsi obat tertentu. Pemeriksaan sederhana seperti cek urine, kreatinin darah, tekanan darah, dan gula darah bisa membantu menemukan gangguan ginjal sejak awal.

Perubahan gaya hidup menjadi kunci utama menjaga kesehatan ginjal. Minum air putih yang cukup, mengurangi garam dan makanan cepat saji, rutin berolahraga, tidur cukup, serta berhenti merokok dan vape sangat berperan besar. Mengonsumsi obat sebaiknya sesuai anjuran tenaga kesehatan, bukan sembarangan.

Jika kerusakan ginjal sudah terjadi, pengobatan bertujuan memperlambat perburukan penyakit melalui pengendalian tekanan darah, gula darah, serta pengaturan pola makan. Pada stadium lanjut, pasien mungkin memerlukan cuci darah atau transplantasi ginjal agar tetap dapat menjalani hidup dengan lebih baik.

Meningkatnya kasus penyakit ginjal pada usia produktif seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Banyak anak muda merasa sehat, padahal kerusakan ginjal bisa terjadi perlahan selama bertahun-tahun tanpa disadari. Mulai menjaga gaya hidup dan melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini adalah investasi penting agar generasi muda Indonesia tetap sehat dan produktif di masa depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Qatar Open 2026: Iga Swiatek Perpanjang Rekor Bagel Seusai Kalahkan Janice Tjen
• 11 jam lalugenpi.co
thumb
Westlife menyebut Indonesia sebagai "rumah kedua"
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Pesan Ammar Zoni untuk Kekasih saat Ulang Tahun: Semoga Dia Bisa Bersabar
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Pertamina Pangkas 15 Anak Usaha, Kini Tersisa 242 Entitas
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Ferry Sephta Indrianto Diperiksa KPK Terkait Kasus Suap Proyek Perkeretaapian
• 9 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.