Terkaman 9 Gol Si Macan Kumbang Eusebio di Piala Dunia 1966

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Christian Gunawan

TVRINews - Lisabon, Portugal

Jauh sebelum masa Cristiano Ronaldo, Portugal memiliki bintang yang bersinar terang. Macan Kumbang julukannya, Piala Dunia 1966 panggungnya.

Kesamaan dua Macan Kumbang ini mungkin nyaris tidak ada. Namun, ternyata karakter komik Black Panther (yang bermakna Macan Kumbang) diluncurkan pada Juli 1966. Artinya, karakter pahlawan super dari komik kelompok Marvel karya Stan Lee itu pertama kali muncul di sekitar gelaran Piala Dunia 1966 di Inggris.

Di Piala Dunia 1966 itulah seorang pemain mengukir namanya sebagai salah satu jagoan termasyhur di lapangan hijau. Eusebio da Silva Ferreira adalah nama lengkap si pemain hebat. Nama singkatnya, Eusebio, lantas melegenda di jagat sepak bola, teristimewa dalam pembicaraan terkait ajang Piala Dunia. 

Pencapaian tertinggi Portugal di arena Piala Dunia adalah peringkat ketiga. Titik itu hadir di Piala Dunia 1966. Yang terdekat adalah peringkat keempat, yakni di Piala Dunia 2006 yang menjadi debut Cristiano Ronaldo di ajang terbesar di dunia ini. 

Eusebio, Si Macan Kumbang, jelas berandil dalam pencapaian tiga besar di Piala Dunia 1966 itu. Koleksi golnya di Piala Dunia 1966 turnamen yang digelar di Inggris tersebut berjumlah sembilan buah. Torehan ini semakin mengesankan karena pesaing terdekat adalah pemain Jerman Barat, Helmut Haller, yang cuma membuat enam gol. 

Gelar pemain tersubur di Piala Dunia 1966 mungkin tidak cukup untuk mengobati kekecewaan Eusebio dan Portugal karena gagal melangkah ke final. Di semifinal, Selecao das Quinas 

Di fase grup, ketajaman Eusebio meningkat secara bertahap. Setelah tidak mencetak gol di laga pertama Grup 3 menghadapi Hungaria, penyerang kelahiran Mozambik Portugis ini membuka pundi-pundi golnya kala menghadapi Bulgaria. Torehannya meningkat menjadi dua gol saat Portugal menekuk juara bertahan, Brasil, dengan skor 3-1. 

Piala Dunia 1966 melahirkan pula kejutan dari Korea Utara. Lolos sebagai runner-up Grup 4, wakil Asia itu mengagetkan penonton yang memadati stadion Goodison Park di laga perempat final. Korea Utara unggul tiga gol saat duel kontra Portugal baru berlangsung 25 menit.

Akan tetapi, folklor berpindah ke Portugal, teristimewa pada "murka" Si Macan Kumbang. Eusebio menggelontorkan empat gol (27', 34' dari titik penalti, 56', dan 59'pen.) untuk membawa Selecao das Quinas berbalik unggul, sebelum Jose Augusto menuntaskan perlawanan Korea Utara.

Eusebio menggoreskan gol kedelapannya di Negeri Ratu Elizabeth kala menghadapi tuan rumah Inggris di semifinal. Namun, The Three Lions unggul dua gol lebih dulu melalui dwigol Bobby Charlton. Skor 2-1 meloloskan Inggris ke final.

Kisah Eusebio belum berakhir di semifinal. Penyerang kelahiran 25 Januari 1942 itu mengukir gol kesembilannya di perebutan peringkat ketiga meladeni Uni Soviet. Gol dari titik putih itu berandil membawa Portugal menempati peringkat ketiga Piala Dunia 1966, yang sampai sekarang menjadi titik tertinggi mereka di ajang akbar empat tahunan ini.

Torehan sembilan gol dari hanya enam pertandingan menempatkannya sebagai pemain tersubur Portugal di Piala Dunia. Total jenderal, persembahannya buat Portugal sebanyak 47 gol, kedua terbanyak setelah Cristiano Ronaldo.

Rasanya tak berlebihan menyebut kisah Eusebio seperti folklor. Ia lahir di Lourenco Marques (kini Maputo), Mozambik, sebagai anak keempat dari pasangan Laurindo Antonio da Silva Ferreira, seorang pekerja rel kereta dari Angola Portugis, dan Elisa Anissabeni dari Mozambik. 

Tumbuh di lingkungan yang miskin, Eusebio kerap bolos sekolah untuk bermain bola dengan kaki telanjang. Rupa-rupanya aksi itu yang mengasah kemahirannya hingga bisa menjadi maestro. 

Pemain yang juga dijuluki Black Pearl dan O Rei atau Sang Raja dikenal memiliki kemampuan tinggi. Kelebihannya terentang luas, dari segi kecepatan, teknis, postur atletis, dan tembakan kaki kanan yang ditakuti pertahanan lawan. Koleksinya layak disebut luar biasa, hampir satu gol per laga, tepatnya 733 gol dari 745 pertandingan.

Prestasi Eusebio di level klub, terutama ketika memperkuat Benfica, berderet, dari 11 gelar Primeira Liga, 5 Taca de Portugal, dan sebuah Piala Champion (1962). Black Panther merupakan pemain pertama yang meraih Sepatu Emas Eropa (1968 dan 1973), Sepatu Emas Piala Dunia (1966), dan Sepatu Emas Liga Champion (1966 dan 1968). Penghargaan individual terbesar yang diraih Eusebio adalah Ballon d'Or pada 1965.

Sejak gantung sepatu sampai kematiannya, Eusebio kerap hadir sebagai duta sepak bola. Wajahnya salah satu yang paling dikenali dari generasinya. Pengakuan datang dari para rival. Pele menempatkan Si Macan Kumbang dalam 125 pemain terbaik dunia. Tak lama setelah Eusebio mangkat pada 5 Januari 2014  di usia 71 tahun, Alfredo di Stefano, dikutip Marca, berujar, "Buat saya, Eusebio selalu menjadi pemain terbaik sepanjang masa."

Editor: Christian Gunawan

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ASN DKI Boleh WFA Saat Lebaran, Pramono: Pelayanan Publik Tak Boleh Terganggu
• 4 jam laludisway.id
thumb
Aksi Curanmor Bersenjata Api di Duren Sawit Digagalkan Warga
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pemulangan WNI Kamboja Uji Prinsip Hukum
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Coppa Italia: Tekuk Napoli, Como ke Semifinal Pertama Kalinya dalam 40 Tahun
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia Apresiasi Kemitraan dengan Iran dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
• 15 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.