Masjid Jogokariyan, Kota Yogyakarta, telah bersiap menyambut Ramadan. Tak hanya menyiapkan pernak-pernik seperti gapura Kampung Ramadan Jogokariyan hingga dekorasi street art, takmir juga menyiapkan alat terbaru, yakni rice bean washer atau alat cuci beras otomatis.
Alat ini digunakan untuk membantu menyiapkan takjil atau menu berbuka sebanyak 3.800 porsi. Menu berbuka ini tetap menggunakan tradisi lama, yakni piring terbang.
Pada Rabu (11/2), kumparan berkesempatan melihat alat ini. Bentuknya serupa panci berbahan stainless steel dan terhubung langsung dengan keran air.
“Tahun ini ada inovasi baru, yakni alat cuci beras otomatis. Bisa mempercepat proses memasak karena tidak perlu sedikit-sedikit mencucinya,” kata Humas Kampung Ramadan Jogokariyan, Ahmeda Edo.
Mesin ini dapat mencuci 50 kilogram beras sekaligus. Waktu sekali cuci hanya membutuhkan 10 sampai 15 menit.
Sementara itu, 3.800 porsi makanan berbuka memerlukan 200 kilogram beras. Petugas cukup empat kali menggunakan alat ini untuk mencuci kebutuhan beras dalam sehari.
“Cukup empat kali menggunakan,” katanya.
Menu berbuka dimasak oleh ibu-ibu dasawisma di Kampung Jogokariyan. Alat ini membantu para ibu yang mayoritas sudah sepuh dalam menyiapkan makanan sehingga tidak perlu berkali-kali mengangkut dan mencuci beras.
“Yang biasanya bolak-balik mengangkut beras yang sudah dicuci, sekarang tinggal dinyalakan saja,” katanya.
Alat ini dibeli dengan harga hampir Rp15 juta dan dikustom agar ukurannya dapat menampung 50 kilogram beras.
Meski harganya cukup mahal, manfaatnya dinilai sepadan. Terlebih, di Masjid Jogokariyan kerap digelar acara besar yang membutuhkan banyak konsumsi.
“Dari manfaat yang kita peroleh, alat ini sangat worth it untuk digunakan,” ujarnya.
Alat cuci beras otomatis ini melengkapi tiga alat penanak nasi jumbo yang masing-masing dapat memasak sekitar 50 kilogram beras.
Jumlah porsi buka puasa tahun ini meningkat dari 3.500 porsi menjadi 3.800 porsi. Dalam praktiknya, jumlah porsi bahkan bisa mencapai 4.000 piring.
“Tetap pakai piring,” katanya.
Menu yang disajikan beragam, seperti opor, tongseng, bistik, bakmoy, brongkos, empal gentong, dan lain sebagainya.
Menghitung Ulang Alat Makan
Selain itu, panitia juga mulai menghitung ulang alat makan karena penggunaan piring dan sendok menyebabkan banyak yang hilang atau rusak.
“Kami sudah mulai persiapan alat makan, menghitung ulang karena kurang lebih setiap tahun yang hilang sekitar 1.000 sampai 1.500 alat makan, yang tidak tahu ke mana. Berkurangnya sekitar segitu,” katanya.
Panitia telah berbelanja alat makan baru untuk memenuhi kebutuhan Ramadan tahun ini.
Tetap Pakai Piring
Meski ada risiko alat makan hilang, tradisi piring terbang ini akan terus dipertahankan.
“Kenapa pakai piring? Karena kita mencoba mengakomodasi sebanyak mungkin orang yang mencari keberkahan di bulan Ramadan,” katanya.
Jika memakai dus atau boks, maka yang mendapat keberkahan hanya yang memasak.
“Kalau pakai piring, yang mengangkut dapat pahala, yang mencuci dapat pahala, yang mengelap piring juga dapat. Jadi kita mencoba memperbanyak orang mendapat keberkahan dalam menyiapkan takjil di bulan Ramadan,” katanya.
Selain itu, penggunaan piring juga efektif mengurangi sampah. Dengan menggunakan piring, diharapkan para jemaah yang datang bisa saling bercengkerama satu sama lain.





