Imam Jazuli: NU Harus Melahirkan Ulama Digital, Hadapi Realitas Zaman

jpnn.com
6 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - CIREBON - Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli menilai Nahdlatul Ulama atau NU yang memasuki abad kedua perjalanannya, dituntut bisa beradaptasi dengan disrupsi teknologi, dinamika politik nasional-global, serta perubahan sosial yang sangat cepat.

"NU kini berada di persimpangan antara mempertahankan warisan kultural -yang disimbolkan oleh sarung dan kitab kuning, dengan kebutuhan untuk bertransformasi menghadapi realitas zaman," katanya.

BACA JUGA: Hanif Dhakiri: PKB Telurnya NU, Merawat Tanpa Mencampuri

"NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Tradisi harus tetap dijaga, tetapi visi, strategi, dan cara kerja harus diperbarui agar NU benar-benar hadir sebagai pelayan umat di abad modern,” imbuhnya.

Menurutnya, salah satu tantangan krusial yang disoroti adalah hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

BACA JUGA: Imam Jazuli Anggap Kiai Kafabihi Mahrus Pantas Memimpin NU

Sebagai partai yang lahir dari rahim NU, PKB semestinya menjadi instrumen politik yang memperjuangkan kepentingan nahdiyin secara substantif. Namun, dalam praktiknya, relasi keduanya kerap diwarnai konflik elite, saling delegitimasi, dan tarik-menarik kepentingan, terutama menjelang Pemilu 2024.

“Atas nama khittah 1926, sebagian elite NU justru bersikap terlalu menjauh dari PKB. Di sisi lain, PKB terkadang lebih sibuk dengan agenda elektoral daripada agenda keberpihakan pada umat. NU perlu kembali berperan sebagai pengawal moral tanpa bersikap antipati terhadap PKB sebagai wadah aspirasi politik warga NU,” ujar Imam Jazuli.

BACA JUGA: 6 Prinsip Penataan Kepemimpinan NU Versi Gus Salam

Tantangan berikutnya yang mendesak NU adalah kesenjangan digital. Saat dunia dakwah beralih ke layar kaca digital, konten moderat seringkali kalah cepat dengan narasi ekstrem. Umat membutuhkan bimbingan agama yang instan, tetapi mendalam, sesuatu yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh gerakan dakwah konvensional.

“NU perlu proaktif dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi dan Aswaja An-Nahdliyah. Penguatan literasi digital di kalangan nahdiyin dan pengembangan konten digital yang menarik menjadi tantangan untuk melawan narasi ekstremisme di ruang siber," ujarnya

"Secara keilmuan dan sanad, NU harus melahirkan "Ulama Digital" yang tidak hanya mahir bahtsul masail secara tekstual, tetapi juga cakap bahtsul masa'il kontemporer di dunia maya, tranformasi dakwah digital ini adalah keniscayaan,” imbuh Kiai IJ.

Dia juga mengingatkan bahwa abad kedua adalah era NU diuji untuk menjadi pelayan umat dan teladan moral yang tidak hanya menyentuh aspek ukhrawi, tetapi juga menjawab permasalahan duniawi -politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan literasi digital, tanpa kehilangan jati diri dan dan tetap menjaga independensi ketika berelasi dengan politik kekuasaan.

"Itu tantangan yang harus dihadapi siapa pun nakhodanya,” tutur Imam Jazuli. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia U-17 Kalah 2-3 dari Tiongkok U-17
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Satgas PRR Gerak Cepat Salurkan DTH Korban Bencana Sumatera Jelang Ramadan
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Gawat! Ikan Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Dikonsumsi Warga Malah Bikin Pusing
• 11 jam laludisway.id
thumb
Dusan Lagator Pemain Rp7,82 Miliar, Dongkrak Nilai Skuad PSM Makassar dari Rp98 Miliar Kini Tembus Rp102 Miliar
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Chelsea Imbang Lawan Leeds United, Liam Rosenior Kritik Moises Caicedo
• 16 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.