Lebih dari Burung Sawah: Bondol Haji dalam Simpul Budaya dan Ekologi

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bondol haji, yang akrab dipanggil emprit kaji atau pipit haji, adalah burung kecil yang menyimpan makna sosial dan ekologis yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Dalam bahasa ilmiah ia dikenal sebagai Lonchura maja, anggota famili Estrildidae yang hidup berdampingan dengan manusia di ruang-ruang terbuka Nusantara. Kehadirannya akrab, tetapi pemahamannya sering dangkal, seolah ia hanya burung sawah biasa tanpa cerita.

Julukan “haji” lahir dari simbol visual yang sangat sederhana, yaitu kepala putihnya yang menyerupai peci haji. Imaji ini hidup kuat dalam budaya masyarakat, lalu membentuk identitas sosial yang khas. Di sini, bahasa budaya bekerja lebih kuat daripada bahasa ilmiah. Nama lokal membangun kedekatan emosional yang tidak dimiliki nama biologisnya.

Dalam literatur internasional, burung ini dikenal sebagai White-headed Munia, nama yang bersifat netral dan deskriptif. Tidak ada makna simbolik di dalamnya. Tetapi budaya lokal Indonesia memberi lapisan makna tambahan. Inilah titik temu antara biologi dan kebudayaan.

Antonio Arnaiz-Villena dalam penelitian filogeni Estrildinae tahun 2009 menjelaskan bahwa kelompok finch ini berasal dari India, lalu menyebar ke Afrika dan Asia Pasifik. Proses evolusi ini membentuk keragaman spesies Lonchura di Asia Tenggara. Bondol haji menjadi bagian dari sejarah panjang migrasi biologis itu.

Secara klasifikasi, bondol haji berada dalam kelas Aves, ordo Passeriformes, famili Estrildidae, dan genus Lonchura. Ia berkerabat dekat dengan berbagai jenis pipit dan bondol lain. Secara ekologis, ia adalah burung sosial yang hidup berkelompok dan membentuk koloni.

Tubuhnya mungil, hanya sekitar 11 sentimeter, dengan struktur ringan dan proporsional. Beratnya sangat kecil, tetapi geraknya lincah. Ia tidak dibuat untuk kekuatan, tetapi untuk efisiensi.

Kepala dan tenggorokannya putih bersih, kontras dengan tubuh cokelat muda keabu-abuan. Lehernya pendek dan menyatu harmonis dengan badan. Tampilan ini membuatnya mudah dikenali.

Paruhnya pendek, tebal, dan berwarna abu-abu kebiruan, sangat cocok untuk memecah biji-bijian. Kakinya biru pucat, kuat mencengkeram batang rumput dan ranting. Setiap bagian tubuhnya menunjukkan adaptasi ekologis yang fungsional.

Sayapnya pendek tetapi efektif untuk terbang cepat dalam jarak pendek. Pola terbangnya sinkron dalam kelompok. Ia mengandalkan kebersamaan, bukan kecepatan individu.

Burung muda tampil lebih kusam, dengan bagian atas tubuh cokelat dan bagian bawah kekuningan. Wajahnya belum putih bersih seperti burung dewasa. Perubahan warna ini menjadi penanda fase pertumbuhan.

Perbedaan jantan dan betina tidak terlalu mencolok, tetapi bisa diamati dengan ketelitian. Jantan biasanya lebih besar, lebih tegap, dan warna putih kepalanya lebih tegas. Betina cenderung lebih kecil, warnanya lebih pudar, dan posturnya lebih membungkuk.

Sebaran geografis bondol haji sangat luas di Asia Tenggara. Ia hidup di Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Bali, dan Sulawesi, serta ditemukan di Thailand dan Vietnam selatan. Bahkan, populasinya pernah diperkenalkan ke Jepang, terutama di Okinawa dan Osaka.

Di Indonesia, burung ini hidup dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Habitat favoritnya adalah rawa, sawah, kebun, padang rumput, dan ruang terbuka hijau. Ia jarang masuk hutan lebat.

Makanan utamanya adalah biji-bijian, terutama padi, rumput, dan tanaman liar. Ia juga memakan serangga kecil sebagai tambahan protein. Aktivitas mencari makan dilakukan berkelompok untuk keamanan dan efisiensi.

Secara ekologis, bondol haji berperan sebagai penyebar biji dan bagian dari rantai makanan. Ia menjadi mangsa bagi predator alami seperti ular dan burung pemangsa kecil. Perannya kecil, tetapi penting dalam keseimbangan ekosistem.

Profesor Johan Iskandar dalam Etnobiologi dan Keanekaragaman Hayati Indonesia tahun 2012 menegaskan bahwa burung adalah indikator kualitas lingkungan. Semakin beragam jenis burung, semakin sehat suatu ekosistem. Dalam kerangka ini, bondol haji menjadi penanda ekologis yang hidup.

Dalam kehidupan sosial, burung ini sering dianggap hama karena memakan padi petani. Tetapi perspektif ekologi melihatnya sebagai bagian dari sistem alam yang seimbang. Konflik ini lahir dari cara pandang yang sempit terhadap alam.

Secara perilaku, bondol haji hidup berkoloni di luar musim kawin. Ketika musim kawin tiba, ia membentuk pasangan dan membangun sarang. Pola ini menunjukkan fleksibilitas sosial yang tinggi.

Musim kawin di Jawa Barat biasanya dimulai pada Februari. Sarangnya berbentuk bola dari anyaman rumput kering. Sarang ini diletakkan di semak atau pohon rendah.

Telurnya berjumlah empat hingga lima butir, berwarna putih, dan dierami sekitar dua minggu. Anak burung mulai belajar terbang dalam tiga minggu. Dalam dua bulan, mereka sudah mandiri.

Umur dewasa reproduktif dicapai sekitar enam bulan. Umur hidup alaminya berkisar lima hingga tujuh tahun. Lingkungan sangat menentukan daya tahannya.

Hanom Bashari dalam artikel Mongabay Indonesia berjudul “Mengapa Bondol Haji Kian Jarang?” tanggal 9 April 2020 menjelaskan adanya kompetisi habitat dengan burung gereja erasia. Passer montanus lebih agresif dan lebih adaptif terhadap manusia. Bondol haji yang lebih sensitif akhirnya tersingkir.

Burung gereja berani hidup dekat manusia dan memanfaatkan sisa makanan. Bondol haji tidak memiliki fleksibilitas perilaku itu. Dalam seleksi alam, adaptasi menjadi kunci bertahan hidup.

Syamsul, penangkar finch, dalam laporan Trubus berjudul “Menangkar Pipit Haji untuk Pasar Eropa” tahun 2021 menunjukkan perubahan status sosial burung ini. Dari hama sawah, ia berubah menjadi komoditas ekspor. Nilai ekonomi menggeser persepsi manusia.

Namun, penangkaran bondol haji tidak mudah. Identifikasi jenis kelamin sulit dilakukan. Reproduksi tidak selalu stabil dan konsisten.

Secara global, status konservasinya masih aman dan dikategorikan Least Concern. Populasinya relatif stabil. Tetapi tekanan ekologis terus meningkat.

Alih fungsi lahan, pestisida, urbanisasi, dan fragmentasi habitat menggerus ruang hidupnya. Dalam teori ekologi lanskap Forman tahun 1995, fragmentasi menurunkan keanekaragaman spesies. Bondol haji adalah contoh konkret dari teori itu.

Bondol haji bukan sekadar burung kecil di sawah. Ia adalah simbol hubungan manusia dan alam. Ia menjadi cermin kualitas lingkungan.

Julukan “haji” bukan hanya estetika, tetapi narasi budaya yang hidup. Simbol religius bertemu biologi dalam satu tubuh kecil. Identitas lokal dan ekologi menyatu.

Di tengah krisis lingkungan, bondol haji menjadi penanda keseimbangan. Ia alarm ekologis yang hidup di sekitar manusia. Ia hadir sebagai peringatan yang sunyi.

Daftar Pustaka

Arnaiz-Villena, Antonio. 2009. Phylogeny and Evolution of Estrildinae Finches. Springer: Berlin.

Bashari, Hanom. 2020. Mengapa Bondol Haji Kian Jarang? Mongabay Indonesia: Jakarta.

Forman, Richard T.T. 1995. Land Mosaics: The Ecology of Landscapes and Regions. Cambridge University Press: Cambridge.

Iskandar, Johan. 2012. Etnobiologi dan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Syamsul. 2021. Menangkar Pipit Haji untuk Pasar Eropa. Trubus: Jakarta.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengamat: Gangguan Penerbangan Picu Kerugian di Sektor Pariwisata
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
5 Alasan Florawisata Santerra Jadi Destinasi Favorit di Malang
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Peran Individu Jadi Kunci Penguatan Literasi Digital di Daerah
• 17 jam laludetik.com
thumb
RISE Mantapkan Strategi Recurring Income, Bidik Pertumbuhan Stabil di 2026
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Diperiksa Sejak Selasa Sore, Bahar bin Smith Masih Jalani Pemeriksaan soal Penganiayaan
• 9 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.