Di balik penonaktifan ratusan peserta Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JKN) pasien gagal ginjal, tersembunyi persoalan yang jauh melampaui kekacauan administrasi. Jumlah pasien gagal ginjal terus melonjak dan antrean cuci darah makin panjang.
Gagal ginjal kronik hanyalah merupakan puncak gunung es, yang menyingkap epidemi hipertensi, diabetes, dan obesitas yang tumbuh tanpa kendali di bawah permukaan.
Asep Purnama, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.TC Hilres Maumere, mengutarakan, pasien gagal ginjal kronis di daerahnya terus bertambah. Tidak semua pasien yang membutuhkan pasien cuci darah atau hemodialisis ini bisa ditangani oleh fasilitas kesehatan di sana.
" Saat ini terjadi antrean pasien untuk cuci darah," kata Asep, saat ditemui di Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (2/2/2026).
Data terbaru yang disampaikan Asep menunjukkan, data pasien cuci darah di RSUD TC Hillers mencapai 106 pasien. Sebanyak 70 pasien reguler dan pasien daftar tunggu sebanyak 36 orang. Sementara itu, dari Unit Dialisis Rumah Sakit St Gabriel Kewa di Sikka, total pasien cuci darah sebanyak 41 orang dan antrean 1 orang.
" Sebagian pasien cuci darah ini adalah anak-anak. Trennya memang sekarang risiko gagal ginjal semakin banyak dialami usia muda juga," kata Asep.
Selain karena tingginya jumlah pasien yang butuh cuci darah dari Kabupaten Sikka, banyaknya antrean terjadi karena kabupaten tetangga seperti Ende dan Flores Timur, belum punya fasilitas cuci darah. "Sebagian pasien di Sikka dari kabupaten tetangga. Dari 9 kabupaten di Flores, baru lima kabupaten memiliki fasilitas cuci darah," ujarnya.
Sebagian pasien cuci darah ini adalah anak-anak. Trennya memang sekarang risiko gagal ginjal semakin banyak dialami usia muda juga.
Sekalipun saat ini pasien cuci darah di Sikka melebihi kapasitas fasilitas, menurut Asep, masih lebih banyak yang belum mendapat perawatan karena di daerah mereka belum ada layanan.
"Jadi, pasien cuci darah sebenarnya puncak gunung es. Misalnya, masyarakat di Pulau Lembata kalau ada pasien gagal ginjal akut butuh cuci darah rutin, siap-siap didodakan saja karena di pulau itu belum ada alatnya," kata dia.
Asep yang merupakan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) mengatakan, gagal ginjal kronis saat ini menjadi masalah serius di Indonesia. Tak hanya di kota-kota besar, terutama juga di daerah-daerah seperti NTT.
" Di daerah seperti NTT, terjadi double burden (beban ganda). Satu sisi penyakit menular seperti rabies hingga penyakit infeksi seperti diare masih jadi masalah besar, di sisi lain penyakit karena gaya hidup modern sepeti hipertensi, diabetes dan gagal ginjal kronis tumbuh pesat," tuturnya.
Pernyataan Asep ini sejalan dengan data kesehatan nasional. Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (9/2/2026), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan jumlah pasien cuci darah atau hemodialisis di Indonesia terus meningkat. “Totalnya 200 ribuan. Tiap tahun bertambah 60 ribu pasien baru,” kata Budi.
Menkes juga mengatakan, pasien gagal ginjal wajib menjalani cuci darah dua hingga tiga kali seminggu seumur hidup untuk menggantikan fungsi ginjal yang rusak ini. Jika terapi terhenti, dampaknya bisa fatal.
Sebagaimana dilaporkan Kompas, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), lebih dari 150 pasien gagal ginjal terdampak penonaktifan kepesertaan BPJS-PBI. Laporan ini datang dari berbagai daerah, termasuk Banten, Bekasi, Cirebon, Yogyakarta, Aceh, Kendari hingga Papua, dengan mayoritas dari Provinsi Jawa Tengah.
Di luar huru-hara, dengan alasan adanya pembaruan data peserta PBI oleh Kementerian Sosial, kita bisa melihat negara makin terengah-engah dengan besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan pasien cuci darah dan penyakit kronis lain.
Cuci darah merupakan pernyakit yang butuh biaya sangat mahal. Sekalipun biaya cuci darah ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, warga yang berobat, terutama di daerah tetap keluar ongkos transportasi, makan, dan pendampingan selama perawatan.
Beban ini tak hanya dirasakan pasien, tetapi juga keluarga. Selain harus bolak-balik ke rumah sakit, banyak yang kehilangan hari kerja dan pendapatan.
Menurut Asep, sekali cuci darah biayanya sekitar Rp 1 juta kalau ditanggung sendiri. Belum lagi biaya akomodasi kalau dia datang dari daerah serta berkurangnya produktivitas kerja.
"Orang kaya sekalipun bisa jatuh miskin kalau tidak ditanggung BPJS. Tapi, disisi lain, beban BPJS pasti sangat besar. Asuransi swasta pasti tidak mau kalau tahu ada pasien gagal ginjal. Biaya kesehatan kita akan jebol kalau kita tidak berupaya mencegahnya sejak dini," kata Asep.
Serial Artikel
Puncak Gunung Es Kesehatan Masyarakat Desa
Penyakit tidak menular yang dipengaruhi pola konsumsi tidak sehat tumbuh signifikan, termasuk di desa-desa yang mayoritas masyarakatnya petani dan nelayan.
Asep mengatakan, gagal ginjal bisa bersifat akut dan kronis. Gagal ginjal akut ini bisa dipicu karena gigitan ular berbisa atau keracunan, yang hanya butuh cuci darah sekali atau dua kali. Namun, gagal ginjal kronis membutuhkan cuci darah dua hingga tiga kali seminggu, seumur hidup.
Cuci darah atau hemodialisis merupakan prosedur medis yang berfungsi menggantikan kerja ginjal yang tak mampu bekerja optimal. Proses ini membantu tubuh membuang zat sisa metabolisme, racun, dan kelebihan cairan yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal.
“ Gagal ginjal kronis kerap tak terdeteksi sampai sudah berat. Saat pasien datang dan harus cuci darah, itu hasil akumulasi kerusakan bertahun-tahun yang dipicu masalah hipertensi, diabetes, obesitas, dan faktor lain terkait gaya hidup,” kata Ketua Komisi Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Herawati Supolo Sudoyo.
Lonjakan jumlah pasien cuci darah kini menjadi gambaran paling nyata dari krisis penyakit tidak menular yang diam-diam membesar. Di balik deretan mesin dialisis, besarnya biaya kesehatan, dan antrean panjang itu, tersembunyi persoalan jauh lebih mendasar: perubahan gaya hidup masyarakat yang kian menjauh dari pola hidup sehat.
Herawati menyebut situasi ini sebagai puncak gunung es. “Apa yang kita lihat pada pasien gagal ginjal hanyalah ujungnya. Di bawahnya ada masalah besar: obesitas, hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolik lain,” katanya.
Gambaran itu terlihat jelas dari hasil riset kesehatan masyarakat di Sikka dan beberapa daerah lain yang dilakukan Herawati dan tim peneliti dari MRIN Universitas Pelita Harapan. Riset ini menemukan beban penyakit metabolik di desa-desa tak kalah berat dibandingkan kota besar.
“Masyarakat kita, di desa maupun kota, saat ini dibebani kesehatan yang memburuk karena gaya hidup, terutama pola konsumsi yang tidak sehat,” kata Herawati menambahkan.
Penelitian MRIN-UPH di komunitas petani Desa Lela dan komunitas nelayan Bajo di Sikka menunjukkan lebih dari separuh responden mengalami obesitas sentral, penumpukan lemak di perut yang jadi pintu masuk berbagai penyakit kronis. Padahal sebagian besar responden adalah petani dan nelayan yang setiap hari bekerja secara fisik.
“ Ini ironi. Mereka tinggal dekat sumber pangan segar, dekat laut dengan ikan melimpah, tetapi pola makan berubah. Konsumsi minuman tinggi gula, garam, dan lemak, termasuk juga dari makanan ultra-olahan, serta kebiasaan merokok dan minum alkohol jadi faktor utama,” ujar peneliti utama MRIN-UPH Safarina G. Malik.
Pemeriksaan kesehatan menunjukkan hanya sebagian kecil warga yang memiliki tekanan darah normal. Banyak yang sudah masuk kategori pra-hipertensi hingga hipertensi tingkat dua. Kadar kolesterol jahat (LDL) juga tinggi, sementara kolesterol baik rendah. Tak sedikit pula yang sudah masuk fase pradiabetes dan diabetes.
Hal paling mengkhawatirkan yakni, hampir sepertiga responden menunjukkan penurunan fungsi ginjal, dan sebagian telah mengalami gagal ginjal kronis. Padahal, sebagian masih tergolong muda usia.
Perubahan pola makan menjadi benang merah dari banyak temuan ini. Minuman manis dalam kemasan, kopi dan teh dengan gula berlebih, mi instan dan pangan ultra-olahan lain, serta makanan tinggi lemak semakin menggantikan pangan lokal seperti umbi, sayur, dan ikan segar.
Dalam diskusi pemaparan hasil riset ini di Maumere, salah seorang responden dari suku Bajo, Suharni, mengatakan, beberapa bulan lalu, ponakannya yang berusia 16 tahun meninggal dunia karena gagal ginjal. "Dia suka mengonsumsi minuman kemasan sejak kecil," tuturnya.
Di Lela, banyak responden menyampaikan pola konsumsi mereka yang tinggi gula, garam, dan lemak. Sebagian besar asupan ini berasal dari pangan ultra-olahan yang menjadi konsumsi sehari-hari, seperti sosis, mi instan, hingga minuman kemasan berpemanis.
“ Dari minuman saja, banyak orang sudah melewati batas konsumsi gula harian yang dianjurkan. Kalau kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun, tubuh kita yang menanggung akibatnya,” kata Safarina.
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol memperburuk risiko. Pada kelompok laki-laki, proporsi perokok sangat tinggi. Kombinasi rokok, pola makan buruk, dan kurang aktivitas fisik mempercepat kerusakan pembuluh darah, jantung, hingga ginjal
Tanpa perubahan serius pada pola hidup, antrean cuci darah dikhawatirkan akan terus memanjang. Biaya kesehatan akan membengkak, sementara kualitas hidup masyarakat menurun.





