Indonesia Tuan Rumah Forum ASEAN Lawan Dengue, Target Nol Kematian 2030

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Regional bertajuk Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Kawasan Asia Tenggara atau Negara ASEAN.

Pertemuan strategis ini sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas negara dalam menghadapi ancaman penyakit dengue yang kian meningkat.

BACA JUGA: Berstatus Wilayah Endemik, Kaltara Luncurkan Vaksinasi Dengue

Diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, forum ini dihadiri sekitar 150 peserta dan panelis. 

Delegasi yang hadir terdiri dari pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, organisasi regional dan global, komunitas ilmiah, serta mitra pembangunan yang mewakili 10 dari 11 negara anggota ASEAN.

BACA JUGA: MPR RI Dorong Kebijakan Lintas Sektor untuk Capai Zero Dengue Death 2030

Pertemuan ini menjadi wadah krusial untuk mendorong penyelarasan kebijakan serta adopsi strategi pencegahan dengue yang lebih komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan. 

Langkah ini dinilai mendesak mengingat dengue masih menjadi tantangan kesehatan publik global yang serius, dengan laporan lebih dari 1,4 juta kasus dan 400 kematian pada awal tahun 2025.

BACA JUGA: Beban Kasus Dengue Membengkak, BPJS Kesehatan Dorong Sistem Antisipatif

Kawasan ASEAN sendiri telah lama diakui sebagai episentrum global penularan dengue dengan kondisi endemis yang terus berlanjut. 

Berdasarkan data European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), hampir 400.000 kasus dilaporkan di Asia Tenggara hingga akhir 2025, di mana Vietnam dan Indonesia mencatat jumlah kasus tertinggi di kawasan tersebut.

Di Indonesia, dampak dengue tidak hanya menyerang sektor kesehatan tetapi juga menimbulkan konsekuensi sosial-ekonomi yang signifikan dengan estimasi kerugian mencapai Rp15 triliun per tahun. 

Hingga Desember 2025, Indonesia mencatat 161.752 kasus dengan 673 kematian, yang menegaskan perlunya kewaspadaan berkelanjutan sepanjang tahun.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, drg. Murti Utami, MPH, menekankan kolaborasi antarnegara anggota ASEAN sangat krusial dalam menanggulangi penyakit ini. 

Dia memandang kawasan regional memiliki tanggung jawab bersama untuk memperkuat sistem pertahanan kesehatan masyarakat.

"Kolaborasi dari negara-negara khususnya negara anggota ASEAN ini menjadi penting untuk kita bisa apa, memperkuat gitu dalam penanggulangan dengue di jajaran ASEAN," kata Murti.

Sebagai hasil konkret dari forum ini, Murti menjelaskan Indonesia mendorong setiap negara untuk merumuskan usulan taktis. 

Usulan-usulan tersebut nantinya akan disinkronisasikan menjadi sebuah gerakan bersama yang lebih kuat di tingkat regional ASEAN.

"Untuk kemudian nanti tentu bisa menjadi kesepakatan, dibawa lagi dalam meeting selanjutnya, seperti apa kita akan melakukan gerakan bersama dalam penanggulangan dengue di kawasan ASEAN," tuturnya.

Mengenai urgensi penanganan dengue di level regional, pemerintah menilai penyakit menular akan selalu menjadi isu yang mendesak untuk diselesaikan. 

Forum tersebut juga menjadi jembatan untuk mencapai ambisi besar kawasan, yakni nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.

"Mimpi untuk sebetulnya itu dimintakan ke seluruh negara ya, zero death dari dengue di tahun 2030 itu bisa kita capai bersama," ujar Murti.

Lebih lanjut, Murti enyoroti kesamaan budaya dan genetik di masyarakat ASEAN menjadi alasan kuat mengapa strategi yang berhasil di satu negara, kemungkinan besar bisa diterapkan di negara tetangga. 

Meskipun vektor nyamuk memiliki jarak terbang yang terbatas, pertukaran pengalaman antarnegara dianggap sangat berharga.

"Juga, genetiknya itu hampir kurang lebih sama. Jadi itu yang kami akan akan sikapi sebetulnya," imbuh Murti.

Pada tahun 2026, Indonesia berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas implementasi teknologi inovatif seperti nyamuk Wolbachia dan vaksinasi.

Pemerintah saat ini fokus menyelesaikan program pilot di lima kota sebelum melakukan ekspansi ke wilayah yang lebih luas di masa mendatang.

"Jadi, ini yang mesti kami selesaikan dulu untuk yang Wolbachia ya. Nanti, tentu mimpi kita untuk memperluasnya ada. Ada, kita coba memperluas nanti ke 20, kemudian nanti pelan-pelan sampai ke 100 seperti itu," kata Murti. (mcr31/jpnn)


Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Soroti Praktik Gadai KJP Jelang Ramadhan
• 6 menit laluokezone.com
thumb
Setahun Menjabat Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Ini Deretan Kasus Menonjol yang Diungkap AKBP Bayu Putro Wijayanto 
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Pembatasan Angkutan Barang saat Lebaran 13-29 Maret, Ini Aturan Lengkapnya
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
[FULL] Pesawat Super Tucano hingga F-16 TNI AU Mendarat di Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Berbuka Makin Segar! Joyday Luncurkan Varian Es Krim Baru Ramadan 2026 
• 7 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.