Kuota Produksi Dipangkas 71 %, Weda Bay Nickel akan Ajukan Revisi

katadata.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah Indonesia memangkas produksi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) PT Weda Bay Nickel (WBN) hanya 12 juta ton tahun ini. Angka tersebut turun 71,43% dari 2025 yang mencapai 42 juta ton. 

Weda Bay merupakan tambang nikel yang berlokasi di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Tambang ini dimiliki oleh Tsingshan Holding Group Co, Eramet SA Prancis, dan PT Aneka Tambang. 

Eramet mengatakan WBN akan melanjutkan persiapan RKAB ini dan melakukan peninjauan bersama pemerintah kontraktor, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya. Hal ini dilakukan untuk bisa menyesuaikan kegiatan pertambangan dan meminimalisir dampak potensial terhadap ekonomi Maluku Utara. 

PT WBN juga berencana mengajukan permohonan revisi kuota produksi ke volume yang lebih tinggi sesegera mungkin. “Permohonan tambahan ini akan mencerminkan kebutuhan pasokan dari fasilitas smelter dan HPAL yang telah beroperasi di kawasan industri IWIP, yang diperkirakan melebihi 100 juta ton,” kata Eramet dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (12/2).

Pengajuan revisi sebelumnya pernah dilakukan oleh WBN pada tahun lalu. Awalnya besaran RKAB mereka banya 32 juta ton, namun setelah revisi naik menjadi 42 juta ton per tahun.

Eramet menyampaikan WBN tetap berkomitmen untuk menjaga dialog konstruktif dan berkelanjutan dengan otoritas Indonesia. Hal ini bertujuan untuk memastikan tingkat produksi yang konsisten dengan keberlanjutan jangka panjang operasi, termasuk juga dampak positif berkelanjutan PT WBN bagi karyawannya, komunitas lokal, dan ekonomi regional Maluku Utara secara keseluruhan.

Bloomberg mencatat pemangkasan produksi Weda Bay Nickel akan berdampak berat bagi perusahaan. Mereka awalnya berencana memperluas produksi menjadi lebih dari 60 juta ton bijih untuk mendukung kawasan industri besar di sekitarnya. Alih-alih, lokasi tersebut terpaksa mengimpor jumlah besar bijih dari Filipina akibat kekurangan pasokan lokal.

Alasan pemangkasan

Kementerian ESDM mengatakan kuota produksi nikel pada 2026 berkisar di angka 250-260 juta ton. Jumlah ini turun 31-34% dibandingkan target produksi 2025 yang mencapai 379 juta ton. 

“(Target produksi) nikel kami sesuaikan dengan kapasitas produksi dari fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Kemungkinan 250-260 juta ton,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno saat ditemui di Kementerian ESDM Rabu (14/1).

Selain untuk menyesuaikan dengan kapasitas produksi smelter, pemangkasan target produksi nikel juga bertujuan untuk mengerek harga komoditas. Saat ini harga nikel berada di kisaran US$ 18.000 per metrik ton kering (dmt), meningkat jauh dibandingkan 2025 yang harganya hanya mencapai US$ 14.800 per dmt.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Dijadwalkan Teken Kesepakatan Tarif Resiprokal dengan Presiden Trump di AS
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Lowongan Dinas Perumahan Pemprov DKI Jakarta 2026: 5 Formasi Dibuka, Pendaftaran hingga 13 Februari
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Lawan Memori Banding Jaksa, Kuasa Hukum Budi Ajukan Kontra Memori Berdasarkan KUHP Baru
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Viral Pria Bertopeng Curi Mata Kucing Marka Jalan di Cawang, Motoran Malam jadi Rawan
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
Bojan Hodak Kecewa Persib Keok, tetapi Akui Ratchaburi FC Pantas Menang
• 20 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.