PRESIDEN Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada tuntutan berlebihan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklirnya. Hal itu diungkapkan di tengah negosiasi yang kembali bergulir dan meningkatnya ketegangan kawasan
Berbicara dalam peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran di Lapangan Azadi, Teheran, Pezeshkian menekankan sikap tegas pemerintahannya terhadap tekanan eksternal.
"Iran tidak akan menyerah terhadap agresi, namun kami terus melanjutkan dialog secara maksimal dengan sejumlah negara tetangga guna menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan," kata Pezeshkian saat peringatan tersebut, seperti dikutip AFP, Kamis (12/2).
Baca juga : Saudi Janji tidak Izinkan Wilayahnya Digunakan untuk Serangan ke Iran
"Negara kami, Iran, tidak akan menyerah pada tuntutan berlebihan mereka," tambahnya.
Meski demikian, Pezeshkian menyatakan Iran bersedia membuka diri terhadap mekanisme pengawasan internasional. Ia menegaskan negaranya siap menerima segala bentuk verifikasi atas program nuklirnya dan kembali menekankan bahwa Teheran tidak memiliki niat untuk mengembangkan senjata nuklir.
Dalam perundingan yang tengah berlangsung, Iran menghendaki agar pembahasan tetap difokuskan pada isu nuklir.
Baca juga : AS Jatuhkan Sanksi pada Puluhan Perusahaan dari Tiongkok hingga India terkait Senjata Iran
Sebaliknya, Amerika Serikat mendorong agar agenda negosiasi turut mencakup program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan.
Pemerintah Iran secara konsisten menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Namun, sejumlah negara Barat dan Israel masih mencurigai adanya ambisi pengembangan senjata nuklir.
Setiap tahun, pemerintah dan para pendukungnya memperingati revolusi 1979 yang menggulingkan Shah Iran yang saat itu didukung Amerika Serikat. Dalam peringatan tahun ini, suasana di Lapangan Azadi dilaporkan lebih ketat dari biasanya.
Seorang jurnalis AFP mencatat adanya peningkatan pengamanan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di lokasi acara, perempuan berhijab tampak mengibarkan bendera Republik Islam Iran serta membawa potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi domestik Iran juga masih dibayangi ketegangan. Bulan lalu, gelombang protes nasional terjadi di berbagai wilayah dan berujung pada tindakan keras aparat keamanan.
Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat sempat mengancam akan mengambil langkah militer untuk mendukung para demonstran. (Z-2)





