Kampung Padat Nyaris Tak Tersentuh Matahari, Bukti Ketimpangan Akses Memiliki Rumah

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki rumah sendiri menjadi impian banyak warga Jakarta. Tapi sayangnya, memiliki hunian di Jakarta tidak semudah dibayangkan karena lahan yang terbatas dan harganya mahal.

Masyarakat ekonomi menengah atau kelas atas akan lebih mudah membeli rumah karena memiliki uang.

Sedangkan masyarakat yang tak punya dana bakal kesulitan meski sudah tinggal di Jakarta sejak lahir.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk di Jakarta sangat tinggi. Banyak sekali pendatang dari daerah lain yang akhirnya menetap di ibu kota karena terlanjur betah atau bekerja.

Imbasnya, banyak yang nekat mendirikan tempat tinggal seadanya, meski kurang layak. Tak jarang rumah didirikan di area terlarang, seperti bantaran sungai, rel kereta, pinggir laut, dan sebagainya.

Bahkan, ada warga yang memilih tinggal di permukiman padat dan minim cahaya matahari.

Salah satunya adalah Mufidatul (23) yang tinggal di konrtakan seharga Rp 400.000 per bulan di RT 20, RW 17, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Kontrakan Mufidatul hanya berukuran 4x5 meter dan terletak di gang sempit minim cahaya  matahari. 

Mufidatul tinggal di kontrakan itu sejak lahir, hingga kini sudah menjadi ibu dari dua anak.

KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Potret Kampung di Muara Baru, Jakarta Utara, yang minim cahaya matahari.

Minim matahari

Ketua RT 20 RW 17 Muara Baru, Hendri Kurniawan mengatakan, lingkungan tempat tinggalnya nyaris tak tersentuh matahari karena penduduk sangat padat.

"Total semua kurang lebih 1.500 sampai 2.000 jiwa. Total bangunan sekitar 450 bangunan," ungkap Hendri ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (11/2/2026).

Dari 450 bangunan yang didominasi semipermanen, 150-nya dibangun dua lantai yang menutupi area atas jalan atau gang.

Hal itulah yang menyebabkan beberapa gang di RW 20 gelap atau minim cahaya matahari selama puluhan tahun, sekalipun pada siang hari. 

Hendri mengaku, sebagai Ketua RT ia sering mengingatkan warga agar tidak membangun lantai dua yang menutupi area atas gang.

Tapi sayangnya, kata Hendri, warga tak mendengarkan imbauannya dan tetap membangun lantai dua rumahnya hingga menutupi area atas jalan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Faktor sosial dan struktural

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta Rakhmat Hidayat memandang penyebab munculnya permukiman minim matahari karena faktor struktural dan sosial.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Optimisme Terakhir James Van Der Beek Sebelum Berpulang di Usia 48 Tahun
• 9 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Deretan Diskon Mobil LCGC di IIMS 2026
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Tarik Ulur Bank KBMI 3 Naik Kelas ke KBMI 4
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Muhammadiyah Mulai Puasa 18 Februari, Kemenag: Kami Hormati
• 7 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Mensos Salurkan Rp 25,8 M Bantuan Jadup ke Warga Terdampak Bencana Sumatera
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.