Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait kelanjutan negosiasi dagang dengan Amerika Serikat.
Nilai pembelian komoditas energi dari Negeri Paman Sam tersebut ditaksir mencapai US$15 miliar.
Hal itu disampaikan Bahlil selepas Rapat Terbatas (Ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (12/2/2026).
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya pemerintah mengamankan pasokan energi domestik di tengah fluktuasi pasar global, sekaligus jembatan penyeimbang neraca dagang Indonesia dan Amerika Serikat.
Bahlil merinci jenis komoditas yang masuk dalam radar belanja pemerintah.
“Sebesar 15 bilion US dolar."
Baca Juga: Waspada Harga Minyak Bergejolak, Permintaan Diproyeksi Turun di Kuartal II
"Itu terdiri dari LPG, kemudian dari crude-nya, kemudian dari BBM-nya, minyak jadinya,” kata Bahlil.
Rencana ini dipandang sebagai manuver diplomasi energi yang krusial.
Selama ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG), untuk menutupi defisit produksi nasional.
Baca Juga: Pemerintah Timbang Opsi Ambil Alih Tambang Martabe ke Danantara
Guna merealisasikan langkah tersebut, Presiden, kata Bahlil, akan bertolak ke Amerika.
Namun, kata dia, lawatan tersebut tidak hanya membahas perundingan dagang, tapi juga membahas potensi kerja sama di sektor pertambangan.
Pemerintah menargetkan kesepakatan ini dapat segera dikunci dalam waktu dekat.
Jika negosiasi berjalan sesuai rencana, implementasi pengadaan komoditas energi ini dipastikan akan dimulai pada periode tahun anggaran berjalan.
“Kalau sudah deal (perundingan), tahun ini juga (kita lakukan),” jelas Bahlil. (*)




