Ikatan Pilot Indonesia (IPI) mengecam keras insiden penembakan yang menewaskan dua pilot maskapai Smart Cakrawala Aviation (Smart Air) di Bandara Koroway Batu (Danowage), Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026).
Dua korban yakni Kapten Egon Erawan dan kopilot Capt. Baskoro Adi Anggoro. Keduanya meninggal dunia akibat luka tembak setelah pesawat yang mereka kemudikan mendarat sekitar pukul 11.05 WIT.
Ketua IPI, Muammar Reza Nugraha, menyebut peristiwa tersebut sebagai tindakan brutal yang mencoreng dunia penerbangan nasional.
“Dua rekan sejawat kami, selepas mendarat, diserang, dianiaya, ditembak dan dibunuh secara biadab, keji dan brutal,” ujar Muammar di Bintaro, Kamis (12/2).
13 Penumpang SelamatPesawat tersebut mengangkut 13 penumpang, termasuk satu bayi. Seluruh penumpang dilaporkan selamat.
Sebelumnya, pesawat lepas landas dari Tanah Merah pukul 10.35 WIT menuju Koroway, wilayah pedalaman Papua yang sangat bergantung pada transportasi udara karena keterbatasan akses darat.
Sekitar 30 menit kemudian, pesawat mendarat. Tak lama setelah itu, terdengar suara tembakan yang mengenai pesawat.
Sebelum ditemukan meninggal dunia, Kapten Egon sempat mengirimkan pesan darurat melalui perangkat GPS Garmin kepada petugas operasional penerbangan sebagai penanda situasi darurat di lokasi.
Dinilai Pelanggaran BeratMuammar menegaskan, insiden tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum nasional maupun internasional.
“Tindakan tersebut adalah pelanggaran berat terhadap Undang-Undang Penerbangan Nomor 1 Tahun 2009, pelanggaran terhadap ICAO Annex 17 tentang aviation security, serta Chicago Convention 1944,” tegasnya.
IPI juga menekankan bahwa bandara merupakan objek vital nasional yang wajib dijamin keamanannya oleh negara.
“Bandara merupakan objek vital nasional yang harus dilindungi dari segala gangguan keamanan,” katanya.
Minta Presiden Turun TanganAtas kejadian ini, IPI meminta perhatian langsung Presiden RI Prabowo Subianto untuk memastikan keamanan penerbangan, khususnya di wilayah berisiko tinggi.
“Memohon dengan hormat perhatian khusus dari Bapak Presiden untuk bertindak segera dan memastikan keamanan penerbangan,” ujar Muammar.
IPI juga mendesak Komite Nasional Keamanan Penerbangan mengambil langkah tegas, termasuk mempertimbangkan penghentian operasional bandara yang dinilai belum aman.
“Mengambil langkah pencegahan berupa penghentian operasional bandara berisiko keamanan tinggi sampai terjaminnya keamanan penerbangan,” tambahnya.
Selain itu, IPI mengimbau seluruh pilot yang bertugas di daerah rawan untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Kami berharap ini menjadi peristiwa terakhir dalam sejarah penerbangan Indonesia,” pungkas Muammar.





