Bisnis.com, JAKARTA — PT Astra Sedaya Finance atau Astra Credit Companies (ACC) mencatat total piutang pembiayaan akhir 2025 senilai Rp40 triliun.
EVP Corporate Communication ACC Riadi Prasodjo mengemukakan kontribusi terbesar terhadap total portofolio perusahaan saat ini berasal dari pembiayaan mobil baru.
Menurutnya pada 2026 ini, pembiayaan kendaraan bermotor masih akan menjadi salah satu kontributor utama dalam pertumbuhan piutang pembiayaan di industri multifinance.
“Hal ini seiring dengan karakteristik pasar dan permintaan pembiayaan. Untuk itu, perusahaan akan fokus pada diversifikasi produk pembiayaan untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan,” katanya kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).
Oleh karena itu, lanjutnya, ACC menargetkan pembiayaan tumbuh positif dibandingkan 2025. Perusahaan akan melakukan diversifikasi produk pembiayaan dan peningkatan kualitas layanan, serta manajemen risiko.
Kendati demikian, Riadi tidak memungkiri masih ada tantangan yang akan dihadapi perusahaan multifinance selama 2026. Misalnya, dinamika kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, serta arah kebijakan suku bunga.
Baca Juga
- DP 0% Kendaraan, Astra Credit (ACC) Tetap Hati-hati Jaga Kualitas Pembiayaan
- Balik Arah Perbesar Taruhan Saham Astra (ASII)
- Pembiayaan Kendaraan dalam Perspektif Kelas Menengah Urban
“Perusahaan multifinance juga perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas portofolio agar rasio pembiayaan bermasalah tetap terkendali,” ucapnya.
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan piutang pembiayaan perusahaan multifinance pada 2026 tumbuh 6%—8% (year on year/YoY).
“Kami melihat outlook tersebut sebagai sinyal positif terhadap pertumbuhan piutang pembiayaan. Pertumbuhan piutang pembiayaan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti dinamika ekonomi dan daya beli masyarakat,” tutupnya.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman membeberkan optimistis outlook itu didorong oleh terbitnya POJK 35/2025 atau deregulasi yang menyederhanakan dan menyesuaikan beberapa ketentuan.
“Kita kan memberikan beberapa paket deregulasi kemarin, dengan POJK kita yang baru itu. Jadi seperti misalnya uang muka, DP untuk pembelian kendaraan bermotor, mobil, kita buat lebih gampang, lebih mudah diakses oleh masyarakat. Kemudian juga untuk UMKM dan seterusnya, jadi seperti itu background-nya,” ucapnya kala ditemui seusai Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2024 di Jakarta, Kamis (5/2/2024).
Lebih lanjut, dia turut mengungkapkan tantangan yang akan dihadapi industri pembiayaan pada 2026. Sebab itu, dia menilai kesempatan deregulasi seperti itu lebih baik dimanfaatkan.
“[Tantangannya] tentu saja mencari proyek-proyek yang lebih sesuai ya dengan kebutuhan masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs.) Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi merincikan piutang pembiayaan perusahaan multifinance sepanjang 2025 mencapai Rp506,5 triliun. Angka itu tumbuh 0,61% (YoY).





