EtIndonesia. Badan Intelijen Luar Negeri Estonia pada Selasa (10/2) merilis laporan tahunan yang menyebutkan bahwa Rusia tidak berniat mengakhiri perang Rusia–Ukraina. Moskow justru sedang mempercepat pembangunan kembali kekuatan militernya dan menjadikan kemenangan militer sebagai tujuan jangka panjang, bahkan dinilai dapat menimbulkan ancaman bagi NATO. Pada hari yang sama dengan dirilisnya laporan tersebut, pasukan Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap infrastruktur energi Ukraina.
Rusia Terus Bombardir Fasilitas Energi Ukraina, 95 Ribu Warga Odesa Kehilangan ListrikAtap runtuh, puing-puing berserakan di mana-mana. Serangan Rusia yang beruntun membuat pembangkit listrik Ukraina berada di ambang kelumpuhan. Para pekerja harus terlebih dahulu membersihkan reruntuhan sebelum dapat menilai peralatan mana yang masih bisa beroperasi.
Kepala divisi turbin, Vladimir, mengatakan: “Serangan terjadi berulang kali, menggunakan rudal, drone, maupun kombinasi keduanya. Bisa dikatakan, kali ini daya hancurnya lebih besar.”
Pada Selasa dini hari, pasukan Rusia kembali menghantam infrastruktur energi kota pelabuhan Odesa di Laut Hitam, menyebabkan lebih dari 95.000 orang di wilayah selatan kota tersebut kehilangan listrik dan pemanas.
Serangan udara itu juga menewaskan seorang anak perempuan berusia 11 tahun dan ibunya di wilayah Donetsk. Menurut data yang dirilis Kantor Kejaksaan Agung Ukraina, serangan ini membuat jumlah anak-anak yang dipastikan tewas dalam perang Rusia–Ukraina mencapai 681 orang.
Intelijen Eropa: Putin Tidak Berniat Menghentikan Perang, Rusia Percepat Pembangunan MiliterPada Selasa, Badan Intelijen Luar Negeri Estonia merilis laporan tahunan. Kepala lembaga tersebut, Kaupo Rosin, menyatakan bahwa berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari “diskusi internal Rusia”, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berniat menghentikan perang melawan Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun. Putin tetap meyakini bahwa Moskow pada akhirnya akan meraih kemenangan militer di Ukraina.
Kepala Badan Intelijen Luar Negeri Estonia Kaupo Rosin (tangkapan layar)Rosin menambahkan bahwa Kremlin masih memandang Amerika Serikat sebagai lawan utama, namun secara strategis menampilkan sikap seolah-olah mau bekerja sama, dengan tujuan memperoleh pelonggaran sanksi dari AS.
“Saya melihat Rusia mencoba membagi negosiasi ke dalam dua jalur. Jalur pertama adalah perdamaian Ukraina. Dalam hal ini, kami melihat Rusia bersedia menunda negosiasi tersebut tanpa batas waktu. Pada saat yang sama, Rusia berupaya meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat, mengalihkan fokus hubungan bilateral ke AS, dengan tujuan utama mencabut sanksi agar ekonominya mendapat ruang bernapas,” ujarnya.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dalam jangka pendek Rusia tidak akan melancarkan serangan militer terhadap negara-negara NATO. Namun, Moskow tengah mempercepat pembangunan kembali kekuatan militernya, termasuk membentuk unit besar sistem drone, mempercepat perluasan cadangan amunisi, serta merencanakan penguatan penempatan pasukan di kawasan Baltik serta di perbatasan Finlandia dan Norwegia.
Uni Eropa Siapkan Daftar Tuntutan: Eropa Harus Terlibat dalam Perundingan DamaiSementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, pada Selasa mengatakan bahwa ia akan menyerahkan kepada negara-negara anggota sebuah daftar yang merinci konsesi yang menurut Eropa harus dilakukan Rusia sebagai bagian dari solusi untuk mengakhiri perang Ukraina.
Kallas menegaskan bahwa tanpa partisipasi dan persetujuan Eropa, perjanjian damai Rusia–Ukraina tidak mungkin tercapai. Ia menyebutkan bahwa daftar tersebut kemungkinan mencakup pengembalian seluruh anak Ukraina yang diculik selama perang, serta pembatasan skala angkatan bersenjata Rusia, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Pada hari yang sama, Kremlin menyatakan bahwa tanggal putaran berikutnya perundingan damai Ukraina belum ditentukan, namun pembicaraan damai kemungkinan akan segera berlangsung. (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing





