Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini belum ditopang kekuatan fundamental yang solid.
Meski indeks ditutup menguat 2% ke level 8.291 pada perdagangan Rabu (11/2), investor asing justru kembali mencatatkan net outflow sebesar Rp526 miliar.
Tekanan jual asing terutama terlihat pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan outflow hingga Rp626 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum didukung minat institusional asing.
Kenaikan IHSG, kata Rully, lebih banyak ditopang saham-saham konglomerasi milik grup Prajogo Pangestu, seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Ketiga saham tersebut menguat signifikan di tengah rotasi spekulatif serta aksi bargain hunting jangka pendek.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Saham BNI Sekuritas untuk Trading Hari Ini Kamis (12/2)
"Kami menilai penguatan IHSG bersifat spekulatif dan taktis, belum ditopang oleh saham berfundamental solid," ujar Rully di Jakarta, Kamis (12/2).
Dari sisi kebijakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama MSCI dalam pertemuan pada Rabu (11/2) membahas rencana pembukaan shareholders concentration list. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas pasar, sekaligus menyelaraskan praktik bursa dengan standar internasional.
Kebijakan tersebut merujuk pada praktik di Bursa Hong Kong yang digunakan untuk mengidentifikasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Baca Juga: Tetap Jualan Meski IHSG Melesat, Asing Gempur 10 Saham Ini
Melihat dinamika di pasar, Mirae Asset Sekuritas memandang prospek penguatan IHSG ke depan masih cenderung terbatas. "Dalam jangka pendek, kami melihat ruang penguatan IHSG relatif terbatas dan tetap bergantung pada arus dana asing," pungkas Rully.





