Sugiyo Waluyo (64), atau yang akrab dipanggil Pak Subur adalah salah satu dalang wayang potehi yang terbilang senior. Pria asal Sidoarjo ini membawa serta lima orang anggota tim grupnya yang diberi nama Thu Lie Kwang bermakna “Cahaya Mandiri.” Bersama grup yang ia dirikan sejak tiga tahun lalu itu, Subur memainkan pertunjukan musiman di Mal Ciputra, Jakarta Barat.
“Dulunya saya bergabung dalam kelompok seni wayang potehi, Fu He An dari Gudo, Jombang sejak 2001, tapi kemudian keluar. Saya ingin mandiri. Makanya saya membuat grup Thu Lie Kwang yang artinya Cahaya Mandiri,” tutur pria berkumis ini sambil bersiap bersama timnya.
Sore itu Subur bersama grupnya mementaskan lakon Sie Djin Kwie Ceng Tang di atrium Mal Ciputra, Jakarta Barat, Rabu (11/2/2026). Sudah sejak tahun 2004, dalang Subur hadir mementaskan wayang potehi bagi pengunjung di mal tersebut, kecuali saat pandemi Covid-19 tahun 2021. Pertunjukan ini digelar selama tiga sesi per hari, pada jam tertentu selama 26 hari penuh.
Pementasan ini sudah menjadi agenda tahunan menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang tahun ini jatuh pada Tahun Kuda Api. Manajemen mal yang berada di kawasan Grogol tersebut menghadirkan pementasan wayang potehi untuk memeriahkan perayaan Imlek. Selain itu juga sebuah upaya untuk melestarikan budaya Tionghoa sekaligus memberikan hiburan edukatif bagi generasi muda. Suguhan ini dapat dinikmati pengunjung mal hingga tanggal 22 Februari 2026.
dalam bilik berukuran sekitar 3 x 3 meter itu, ia bersama grupnya menyuguhkan narasi sejarah Tionghoa bagi para pengunjung mal. Cerita yang dibawakan tidak pernah terulang dan terus bersambung dari satu pementasan ke pementasan berikutnya dalam durasi sekitar satu jam. Dengan demkian, diharapkan penikmat wayang potehi sejati akan benar-benar datang kembali untuk menyimak pertunjukan selanjutnya.
Dalam pementasan ini, Subur membawa serta 120 karakter wayang potehi. Ia mengisi dialog tokoh dan sesekali ikut memainkan musik dengan seruling ditemani asistennya, Jaya (61) yang memainkan wayang. Dialog mengalir dari mulut Subur dengan bantuan buku catatan di kecil di depannya setiap manggung. Sementara tim pendukung beranggotakan empat orang memainkan musik mengiringi pentas wayang potehi.
Mereka memainkan beragam alat musik tradisional China seperti terompet (hiana), seruling, rebab (erhu), gamelan (xiao luo), (bak) simbal, tambur (dongko), gong (toa lou), kecek-kecek dan alat musik lainnya. Suara-suara alat musik ini memberikan efek dramatis untuk membantu menghidupkan cerita. Melalui suara ini tercipta atmosfer yang sesuai dengan alur cerita berdasar emosi, membangun ketegangan hingga meningkatkan intensitas emosi penonton, terutama pada adegan-adegan klimaks.
Cerita ini mengisahkan penyerangan Sie Djin Kwie Ceng Tang atau Sih Jin Kui ke timur, tepatnya Kerajaan Liu Tang Ko Le Kok. Sie Djin Kwie adalah tokoh yang dari kelas rendah di istana, tapi memiliki jiwa patriotik dan semangat kepahlawanan untuk negaranya di tengah kebobrokan. Tokoh ini telah lama menjadi legenda rakyat di Negeri Tiongkok dari sejarah Dinasti Tong (618-907 Masehi).
Adegan demi adegan dibangun dengan gerak luwes dan lincah wayang dimainkan Jaya, diisi oleh dialog oleh Subur dan diiringi suara dari alat musik tradisional Tionghoa. Memainkan wayang potehi bukan perkara mudah karena saat memainkannya si dalang terhalang kain. Dalang hanya mengintip dari celahnya. Sementara beberapa adegan selain gerakan-gerakan juga ada pertarungan hingga aksi memanah salah satu karakter yang mengenai karakter lainnya.
Dalam setiap pementasan dari tahun ke tahun, seringkali tema cerita yang dibawakan Subur mememuhi permintaan penanggap agar disesuaikan dengan zodiak Tionghoa yang bertepatan dengan tahun baru Imlek tersebut, seperti jatuh 2026 ini yang menandai Tahun Kuda Api.
Dalam kisah tersebut, diceritakan bahwa Sie Djin Kwie memimpin pasukan untuk menyerbu suatu kota. Akhirnya ia mendapatkan rampasan kuda bernama Sa Hong Kie. Kuda sakti ini mampu berlari ibarat seperti angin bahkan mampu menyeberangi lautan.
Riuh tetabuhan dari pentas ini ini memecah suasana dan mengundang daya tarik pengunjung mal yang datang dan pergi silih berganti. Beberapa diantaranya ada yang penasaran, terutama penonton anak-anak, ada juga pengunjung yang merekam pentas kesenian ini. Penonton dari etnis Tionghoa terutama terlihat lebih seksama menyimak cerita selain pengunjung lainnya. Seperti salah seorang penonton, Stephanus Sanjaya. “Waktu kecil saya sering diajak papa saya untuk nonton (wayang potehi), cuma ya waktu itu tidak mengerti ya,” ucapnya.
Stephanus menyimak dengan serius cerita wayang ini karena akan menjadikannya sebagai bahan diskusi tentang kultur Tionghoa di Semarang dalam waktu dekat. “Ini kan relevan ceritanya tentang kaisar yang memanah burung hong. Baru aja kan ada kucing yang ditendang sampai mati. Nah, sayang pada hewan itu kan menunjukkan empati. Menurut saya pertunjukan ini relevan dengan kondisi masyarakat dan itu bagus,” tutur dosen dari kampus swasta di bilangan Jakarta Barat tersebut.
Namun, ia memberikan catatan agar atraksi ini bisa lebih menarik animo pengunjung, yaitu dengan menambah interaksi dalang dengan pengunjung melalui dialog-dialog seperti pentas Lenong Betawi.
Tak hanya mengundang ketertarikan dosen, pentas ini juga diikuti oleh Bilal, alumnus kampus Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia (UI). Ia ingin belajar mendalami wayang potehi dari pak Subur. Keterbatasan informasi dan akses untuk ke Jawa Timur terlalu jauh dari Jakarta itu membuat momentum ini sangat berharga baginya.
Di tengah lambatnya regenerasi dalang potehi, keberadaan anak muda seperi Bilal terasa seperti oase di dengah padang pasir. Kedatangannya tiap tahun di Mal Ciputra selalu dimanfaatkan untuk terus mendalami wayang Potehi. Jawa Timur memang menjadi gudang wayang potehi dimana dalang-dalang banyak berasal dari wilayah ini.
“Menurut saya, dalang senior wayang potehi yang mau mendidik dan meregenerasi panggung bagi pemain muda di Indonesia saat ini mungkin hanya enam, dan salah satunya adalah Pak Subur, ” ujarnya. Baginya, Pak Subur adalah seorang guru yang “ngayomi.” Selain mengajarkan wayang, Subur yang tergolong dalang potehi senior yang disegani ini juga memberikan referensi buku-buku untuk mendalami sisi cerita dan sejarah.
Sepengetahuan Subur, di Jakarta dan sekitarnya sendiri ada juga sanggar wayang potehi baru bermunculan seperti Siauw Pek San dari Jakarta dan Rumah Cinwa (Rumah Cinta Wayang) dari Tapos, Depok. Keberadaan sanggar-sanggar ini dinilai penting untuk menjaga kelestarian budaya akulturasi ini.
Momentum Imlek memang mendatangkan rezeki tetap bagi Subur. Di luar itu, ia mempunyai rutinitas bermain wayang di kelenteng-kelenteng hingga sekolah di wilayah Jawa Timur. Puluhan tahun bermain wayang Potehi telah membuatnya berkelana ke beberapa daerah seperti Bali dan Banjarmasin hingga pentas di Jepang dan Malaysia. Bagi Subur, wayang Potehi atau wayang kantong ini selain menjadi sumber penghidupan juga sebagai upayanya untuk membantu melestarikan budaya Tionghoa.





