Wakil Menteri Keuangan (wamenkeu) Suahasil Nazara menilai jumlah penerima pembiayaan ultra mikro (UMi) oleh Pusat Investasi Pemerintah (PIP) di Kota Solo, Jawa Tengah, yang saat ini sekitar 25 ribu orang masih terlalu kecil untuk skala kota tersebut.
Skema penyaluran pembiayaan UMi sendiri tidak diberikan langsung oleh PIP kepada debitur. Dana terlebih dahulu disalurkan melalui lembaga penyalur, yang kemudian meneruskannya kepada penerima sekaligus menyediakan pendampingan dan program pemberdayaan.
“Saya tadi waktu dengar angka 25 ribu penerima UMi atau debitur, saya rasa untuk kaliber kota Solo harusnya bisa lebih besar, terlalu kecil menurut saya 25 ribu itu untuk kaliber kota sebesar Surakarta,” kata Suahasil dalam Kunjungan Kerja Pers 2026 di Wilayah Sangkrah, Solo, Jawa Tengah (12/2).
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat membantu proses identifikasi agar penyaluran lebih tepat sasaran, khususnya melalui dinas koperasi dan usaha kecil menengah (UKM), serta perangkat daerah terkait penataan kawasan.
“Tapi nanti silakan identifikasi termasuk kalau di daerah sangkrah ini juga bisa menjadi penerima dan ada kegiatan usaha yang bisa menjadi menerima financing dari PIP,” ucap Suahasil.
Adapun bunga pembiayaan dari PIP berkisar 2-4 persen karena program ini bersifat dukungan pembiayaan, bukan komersial, sehingga lebih rendah dibandingkan bunga bank. Meski demikian, Suahasil memahami lembaga penyalur biasanya menambahkan margin untuk menutup biaya pendampingan dan pemberdayaan debitur.





