JAYAPURA, KOMPAS - Insiden penembakan pesawat yang menewaskan dua orang pilot di Papua menambah daftar panjang teror penerbangan di wilayah tersebut. Ikatan Pilot Indonesia mendesak agar pemerintah dan otoritas terkait segera memulihkan keamanan di wilayah penerbangan dengan kerawanan tinggi.
Kejadian terbaru di Papua menimpa pilot Egon Erawan dan kopilot Baskoro Adi Anggoro. Keduanya merupakan pilot Smart Aviation PK-SNR yang tewas ditembak kelompok bersenjata di Bandar Udara Koroway Batu, Distrik Kombay, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026).
Ketua Ikatan Pilot Indonesia (IPI) Muammar Reza Nugraha menyampaikan, musibah yang menimpa Egon dan Baskoro merupakan duka bagi seluruh pilot Indonesia. Insiden penyerangan ini dinilai sebagai pelanggaran berat dalam dunia penerbangan.
“Penerbangan adalah moda transportasi strategis nasional yang vital bagi Indonesia, yang menghubungkan geografis Indonesia sebagai negara kesatuan, berperan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat maupun memenuhi kebutuhan pangan, medis, dan roda ekonomi sampai ke penjuru negeri,” kata Reza dalam konferensi pers yang dilakukan secara hibrida, Kamis (12/1/2026).
Secara khusus, Reza meminta agar Presiden Prabowo Subianto segera bertindak dalam memulihkan dan menjamin penerbangan di wilayah rawan. Ia juga meminta kepada otoritas terkait untuk menghentikan sementara operasional penerbangan di wilayah dengan risiko keamanan.
Saat diwawancarai lebih lanjut, Reza menyatakan, teror penerbangan di Papua terus berulang dan cenderung meningkat. Insiden yang terjadi di Boven Digoel menunjukkan perlunya perbaikan pengamanan penerbangan di Papua.
Apalagi, dalam seminar di Jayapura yang diselenggarakan pada tahun 2022, IPI sudah memberikan sejumlah rekomendasi terkait keselamatan penerbangan di Papua. Masih adanya teror di dunia penerbangan menunjukkan, masih ada sejumlah rekomendasi yang harus dijalankan untuk perbaikan.
Salah satu poin yang masih jadi perhatian saat itu adalah terkait peningkatan pengamanan di setiap bandara. Hal ini karena sejumlah bandara di pedalaman Papua masuk dalam kategori rawan gangguan kelompok bersenjata.
Masalah gangguan keamanan ini pun kerap menjadi keluhan para pilot yang beroperasi di Papua. Reza mencatat, setidaknya ada sekitar 100-200 pilot yang melayani penerbangan di Papua. Hampir setiap tahun, dia menyebut, keluhan terkait teror dan ancaman keselamatan selalu diutarakan oleh para pilot.
“Keresahan itu akhirnya memuncak pada insiden di Boven Digoel. Oleh karena itu, ini menjadi catatan untuk segera dievaluasi secara menyeluruh agar tidak ada lagi insiden serupa,” ungkap Reza.
Penerbangan adalah moda transportasi strategis nasional yang vital bagi Indonesia
Poin rekomendasi lain yang disampaikan IPI adalah terkait peningkatan status sejumlah lapangan terbang. Beberapa lapangan terbang didorong ditingkatkan statusnya menjadi bandara sesuai dengan tatanan kebandarudaraan nasional.
Selain itu, operator didorong meningkatkan kerja sama dengan masyarakat lokal serta pemerintah daerah. Hal ini untuk memberikan informasi keamanan di sekitar lapangan terbang.
Di sisi lain, pemerintah daerah didorong memberikan kesempatan pendidikan dan pelatihan penerbangan kepada masyarakat lokal sekitar lapangan terbang. Dengan begitu, masyarakat bisa ikut dalam membantu operasional bandara.
“IPI memilih mendorong di level regulasi karena para pihak di level ini yang bertugas menjamin keamanan penerbangan. Kami akan terus mendorong ini demi keberlangsungan penerbangan dan pelayanan di wilayah-wilayah terpencil,” ucap Reza.
Insiden penembakan di Boven Digoel menyasar pesawat yang mendarat di Bandara Koroway Batu di Distrik Kombay. Bandara ini berada di wilayah pedalaman Papua Selatan yang berbatasan dengan Papua Pegunungan. Papua Pegunungan merupakan daerah dengan tingkat teror bersenjata tertinggi di Papua.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, kode Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Bandara Koroway Batu adalah WAKY. Bandara yang dikelola Ditjen Perhubungan Udara ini berada di bawah otoritas Bandara Wilayah X Merauke.
Dalam keterangannya resminya, Ditjen Perhubungan Udara mencatat, pesawat Smart Aviation terbang dari Bandara Tanah Merah, ibu kota Boven Digoel, pada pukul 10.38 WIT. Pesawat mendarat di Bandara Koroway Batu pada pukul 11.05 WIT.
Berdasarkan informasi awal dari Satgas Damai Cartenz, penembakan terjadi setelah pesawat parkir di apron lapangan terbang. Saat itu, para penumpang telah turun dari pesawat.
Saat tembakan terdengar, para penumpang berlarian menuju hutan. Dalam situasi tersebut, pilot dan kopilot berusaha melarikan diri. Namun, keduanya diduga tewas tertembak saat masih berada di area landasan bandara.
Setelah kejadian itu, jenazah Egon dan Baskoro dievakuasi dari Koroway Batu ke Mimika, Papua Tengah, pada Kamis pagi. Selanjutnya, jenazah diterbangkan ke Jakarta untuk proses penyerahan kepada keluarga.
Satgas Damai Cartenz menyatakan, saat ini aparat sedang berupaya memastikan keamanan di sekitar bandara. Untuk saat ini, penerbangan di Koroway Batu dihentikan sementara.
”Aparat kini berupaya mensterilkan lokasi agar masyarakat dapat kembali beraktivitas normal, termasuk tenaga pendidik dan tenaga kesehatan yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan di wilayah tersebut,” kata Kepala Humas Satgas Damai Cartenz Komisaris Besar Yusuf Sutejo.
Sementara itu, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menyatakan, kelompoknya bertanggung jawab dalam insiden ini. Sebby menuding para pilot adalah agen intelijen Indonesia. Alasan seperti ini sering dilontarkan oleh TPNPB-OPM dalam berbagai aksi teror yang mereka lakukan.
”Pesawat ditembak dan pilotnya dibunuh karena perusahaan penerbangan ini sering angkut pasukan keamanan Indonesia di seluruh tanah Papua,” ujar Sebby.





