Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, dikabarkan akan melakukan kunjungan ke Washington DC pekan depan. Dia berharap bisa bertemu langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas isu tarif perdagangan.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, dikutip dari Bloomberg, Kamis (12/2), pertemuan ini diharapkan dapat memecah kebuntuan negosiasi dagang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, khususnya terkait definisi barang “transshipment” atau barang yang dikirim melalui negara ketiga.
Pemerintah AS sebelumnya menyatakan barang semacam itu dapat dikenakan tarif hingga 40 persen, yang berpotensi menekan kinerja ekspor Vietnam.
Kunjungan To Lam disebut juga berkaitan dengan undangan untuk menghadiri pertemuan perdana Board of Peace yang digagas Trump. Dalam agenda tersebut, pejabat kedua negara juga berpeluang menyaksikan penandatanganan sejumlah kesepakatan antara perusahaan Vietnam dan AS, meski rincian kerja sama belum diungkapkan.
Hingga kini, baik pemerintah Vietnam maupun Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana pertemuan tersebut.
Selain Vietnam, Indonesia juga memanfaatkan momentum pertemuan tersebut untuk mendorong pembahasan perdagangan. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan berada di Washington dan diperkirakan akan menandatangani kesepakatan terkait tarif dengan pemerintah AS.
Vietnam sebelumnya sempat diancam tarif sebesar 46 persen oleh AS menyusul besarnya surplus perdagangan negara tersebut terhadap Amerika, yang menjadi terbesar ketiga di dunia pada 2024 setelah China dan Meksiko. Pada Juli lalu, Trump menurunkan ancaman tarif menjadi 20 persen, namun kebijakan itu disebut mengejutkan pejabat Hanoi karena dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi hasil negosiasi sebelumnya.
Meski menghadapi tekanan tarif, ekspor Vietnam tetap menunjukkan ketahanan. Data pemerintah setempat mencatat surplus perdagangan dengan AS melebar menjadi rekor USD 133,9 miliar tahun lalu, naik 28 persen dibanding tahun sebelumnya.
Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata setidaknya 10 persen dalam lima tahun ke depan, meskipun tarif AS dan ketidakpastian perdagangan global berpotensi menekan ekspor dan investasi.
Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 8,02 persen tahun lalu, di bawah target pemerintah sebesar 8,3-8,5 persen, namun tetap mempertahankan posisi Vietnam sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.





