Data Iranata Ketua Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyoroti pentingnya penerapan konsep bangunan tahan gempa di Indonesia, tidak terkecuali di Surabaya.
“Belum lagi sekarang kan banyak ditemukan patahan-patahan lokal ya. Sebenarnya kan sumber gempa itu kan ada patahan lempeng tektonik yang berada di barat Sumatera, selatan Jawa, kemudian naik ke arah Sulawesi itu. Itu yang patahan yang besar lempeng tektonik. Kemudian ada juga patahan-patan lokal seperti di sesar-sesar yang di Surabaya ini kan juga dilewati satu sesar. Jadi sebenarnya bukan berarti Surabaya ini bebas gempa,” ungkap Data Iranata pada Radio Suara Surabaya, Kamis (12/2/2026).
Konsep tahan gempa tidak berarti bangunan tidak akan mengalami kerusakan sedikitpun saat diguncang bencana alam tersebut. Namun sebuah bangunan bisa bertahan dan meminimalisir terjadinya korban.
“Jadi konsep bangunan tahan gempa itu adalah menyelamatkan orang yang berada di dalamnya. Bukan menjaga bangunannya tidak rusak. Tapi kita bagaimana cara menyelamatkan orang yang berada di dalamnya, yaitu bangunan itu tidak boleh runtuh,” katanya saat mengudara di FM 100.
Data Iranata mengatakan, saat gempa ringan berskala di bawah 5 magnitudo, bangunan tahan gempa tidak akan mengalami kerusakan sama sekali. Tapi kerusakan akan terjadi ketika skala gempanya lebih tinggi.
“Tapi kalau sudah skalanya di atas 5, 6, 7, itu gempa menengah, itu dia boleh mengalami kerusakan. Tapi sifatnya yang bukan struktural. Jadi mungkin material-material nonstruktural seperti yang bersifat arsitektural, seperti mungkin kaca pecah atau plafon yang mengalami kerusakan, kusen lepas itu boleh. Tapi strukturnya harus masih kuat,” pungkasnya.
Struktur bangunan yang masih kuat inilah yang bisa menyelamatkan orang yang ada di dalam bangunan tersebut ketika gempa terjadi.
“Jadi beban gempa yang besar itu diakomodasi oleh kerusakan-kerusakan yang terjadi di rumah, yang sudah kita perhitungkan, atau isinya secara engineering sudah kita perhitungkan. Sehingga bangunan itu tetap tidak mengalami keruntuhan. Sehingga orang yang di dalamnya itu masih selamat,” imbuhnya.
Data Iranata mencontohkan Taiwan yang memiliki pelatihan kesiapsiagaan bencana, khususnya soal gempa.
“Kalau ada gempa itu kita cari di samping lemari kita jongkok, atau apa istilahnya kayak sujud gitu lah. Jadi kalau ada plafon yang jatuh itu kita masih terlindungi oleh itu. Entah di lemari, entah di meja yang tinggi kan gitu. Jelas bahwa bangunan ini boleh mengalami kerusakan tapi dia tidak boleh mengalami roboh atau runtuh,” ungkapnya.
Salah satu kunci bangunan anti gempa adalah tidak boleh menggunakan material yang bersifat getas. Material getas adalah karakteristik material berpotensi patah mendadak.
“Kalau di rumah sederhana itu, kita tidak boleh komponen struktural seperti kolom hanya batu bata saja. Jadi minimal untuk kolom dan balok itu, kita harus menggunakan beton dengan besi tulang. Kemudian besi tulangannya ini harus saling terkait antara yang di pondasi, antara yang di sloof, antara dengan yang di balok ring yang di atas,” jelasnya. (lea/ham)



