Bandung, VIVA – Kekhawatiran menyelimuti Syukur Rohmatullah alias Iwan Kancra, seorang tukang cukur di Jalan Kancra, Burangrang, Kota Bandung. Ia sempat terkejut saat mendengar kabar penonaktifan kepesertaan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara dirinya tengah berjuang melawan gagal ginjal dan harus rutin menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan.
Sudah hampir satu tahun Iwan menjalani pengobatan hemodialisa di Rumah Sakit Sartika Asih, Kota Bandung. Prosedur medis tersebut wajib ia jalani secara berkala demi mempertahankan kondisi kesehatannya.
Biaya pengobatan yang tidak sedikit membuatnya sangat bergantung pada program BPJS PBI. Jika harus membayar secara mandiri, satu kali tindakan cuci darah diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp2 juta, belum termasuk obat-obatan pendukung lainnya.
Sebagai tukang cukur dengan penghasilan yang tidak menentu, Iwan mengaku tak sanggup jika harus menanggung seluruh biaya pengobatan tanpa bantuan negara. Meski saat ini kepesertaan BPJS miliknya masih aktif, kabar penonaktifan sempat membuatnya gelisah.
"Sempat kaget, kalau BPI dinonaktifkan karena saya selama ini menggunakan BPJS untuk berobat dan cuci darah," kata Iwan, Kamis (12/2/2026).
Ia berharap pemerintah tetap menjaga keberlangsungan program BPJS PBI, terutama bagi masyarakat kurang mampu yang tengah menghadapi penyakit kronis.
"Dan berharap tidak ada penolakan layanan kesehatan di rumah sakit bagi warga yang membutuhkan pengobatan," katanya.
Bagi Iwan, BPJS PBI bukan sekadar fasilitas bantuan sosial, melainkan penopang utama untuk terus menjalani terapi dan mempertahankan harapan hidup di tengah keterbatasan ekonomi. (Laporan Cepi Kurnia, tvOne, Bandung)





