Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mulai mempercepat pengerjaan proyek-proyek minyak dan gas bumi (migas) pada tahun ini. Namun, pengamat menilai proyek-proyek itu belum memberi sinyal positif bagi sektor hulu migas nasional.
Adapun, salah satu proyek migas raksasa yang digenjot tahun ini adalah Proyek LNG Abadi, Blok Masela. Inpex Corporation (Inpex) disebut bakal melakukan groundbreaking proyek tersebut dalam waktu dekat.
Proyek Abadi Masela ditaksir sanggup memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, setara dengan lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang.
Di samping itu, proyek tersebut juga diestimasikan mengakomodasi gas pipa 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd), serta 35.000 barel kondensat per hari (bcpd).
Selain itu, SKK Migas juga menargetkan persetujuan pengembangan atau plan of development (PoD) Lapangan Tangkulo-1 di Wilayah Kerja (WK) South Andaman rampung pada Juni 2026.
Lapangan tersebut memiliki potensi sekitar 1 triliun kaki kubik (Tcf) gas. Sementara itu, total potensi gas di Blok South Andaman diperkirakan mencapai 11 Tcf.
Baca Juga
- 8 Proyek Migas Ditarget Beroperasi Tahun Ini, Ada Pertamina hingga Medco
- DPR Sebut Tata Kelola Lingkungan Tak Ganggu Kinerja Hulu Migas PGN Saka
- Bahlil: Butuh Mukjizat untuk Kembalikan Lifting Minyak RI ke 1,6 Juta Barel
Praktisi Migas Hadi Ismoyo menilai, berjalannya sejumlah proyek migas raksas itu belum cukup untuk menggerakan sinyal positif. Dia berpendapat, Masela sudah cukup lama sekali prosesnya dan terkesan lamban.
"Bahkan kami juga belum mendengar GSA [Gas Sales Agreement] yang firmed dari proyek tersebut yang memuat tiga hal pokok, harga, volume dan time delivery. Saat ini baru sampai HoA [Head of Agreement]," ucap Hadi kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).
Selain itu, Lapangan Tengkulo juga belum bisa optimal menggenjot sektor hulu migas. Sebab, baru ada satu sumur discovery.
Mantan sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) itu menuturkan, potensi Tcf perlu tambahan deliniasi wells untuk memetakan besaran resources dan boundary reservoir.
"Artinya status resources di Tengkuno masih perlu tahapan lanjut untuk meminimize ketidakpastian reserves. Sulit investasi besar kalau resourcesnya dan GSA-nya masih tidak pasti," jelas Hadi.
Lebih lanjut, Hadi juga menilai bahwa kedua blok tersebut juga belum bisa secara langsung mengejar target lifting minyak 1 juta barel per hari (bph) pada 2029. Sebab, kedua lapangan hanya memproduksi gas.
"Kedua lapangan tersebut adalah gas, hanya ada sedikit kondensat, hanya membantu menambah produksi lifting nasional, dan memperkecil decline production nasional," jelasnya.
Hadi berpendapat, untuk mengejar target lifting minyak 1 juta barel, harus ada 3 PoD besar sekelas Banyu Urip, dan itu harus didukung eksplorasi yang masif. Kendati, dia menilai realisasi produksinya baru bakal terlihat pada 2035-2040.





