Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan rencana kenaikan batas minimal free float menjadi 15 persen tidak hanya bertujuan menekan praktik saham gorengan, tetapi juga untuk memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia agar semakin diminati investor asing.
Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan peningkatan free float akan membuat pasar lebih dalam, likuid, dan transparan. Dengan kondisi tersebut, upaya manipulasi harga akan semakin sulit dilakukan, sekaligus meningkatkan kredibilitas pasar di mata global.
“Dengan free float yang lebih besar dan pasar yang lebih dalam, transparansi akan meningkat dan ruang manipulasi makin sempit. Ini penting agar pasar kita semakin sehat,” ujarnya di Menara CIMB Niaga, Kamis (12/2).
BEI menyadari ada kekhawatiran pelaku pasar terkait dampak kebijakan ini terhadap harga saham dan stabilitas perdagangan. Karena itu, implementasi akan diatur secara hati-hati melalui diskusi dengan emiten, terutama bagi perusahaan yang free float-nya masih di bawah 15 persen.
Dari 956 perusahaan tercatat, sebanyak 298 emiten masih memiliki free float di bawah 15 persen. Namun secara kapitalisasi pasar, hanya sebagian kecil yang dominan. BEI akan memprioritaskan pengaturan transisi pada emiten-emiten besar agar tidak menimbulkan gejolak.
Di sisi permintaan, BEI melihat dukungan investor domestik terus menguat, terutama dari investor ritel dan institusi dalam negeri. Namun, BEI menegaskan bahwa menarik lebih banyak investor asing masuk ke Indonesia tetap menjadi fokus utama.
“Kita tidak hanya ingin investor asing tetap bertahan di sini, tetapi bagaimana supaya lebih banyak lagi investor asing masuk ke pasar kita. Itu juga potensi demand yang sangat besar,” kata Jeffrey.
Dengan pasar yang lebih dalam, likuid, dan transparan melalui kebijakan free float 15 persen, BEI berharap kepercayaan global terhadap pasar saham Indonesia semakin meningkat, sehingga arus modal asing ke RI bisa terus bertambah.





