Penghitungan suara dimulai dalam pemilu nasional Bangladesh, Kamis (12/2), setelah jutaan warga memilih pemerintahan baru. Pemilu ini menjadi yang pertama sejak Sheikh Hasina digulingkan pada 2024 lewat gelombang protes besar yang dipimpin generasi muda.
Komisi Pemilihan menyebut hampir setengah pemilih telah mencoblos di lebih dari 36 ribu dari total 42 ribu TPS hingga siang hari. Partisipasi itu melampaui total 42 persen pada pemilu sebelumnya. Hasil awal diperkirakan terlihat sekitar tengah malam, sementara hasil resmi diprediksi diumumkan Jumat pagi.
Pertarungan mempertemukan dua koalisi yang dipimpin mantan sekutu, yakni Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan Jamaat-e-Islami. Survei memberi keunggulan tipis kepada BNP. Kedua kubu sama-sama percaya diri menang dan menyebut pemilu ini sebagai momentum perubahan bagi negara berpenduduk 175 juta jiwa tersebut.
Pemilu kali ini juga dibarengi referendum reformasi konstitusi, termasuk pembentukan pemerintahan transisi netral saat masa pemilu, pembatasan masa jabatan perdana menteri, serta penguatan independensi peradilan. Pengamanan ketat diterapkan dengan hampir satu juta aparat dikerahkan, sementara banyak pemilih menyebut suasana pencoblosan terasa lebih bebas dan penuh harapan dibanding sebelumnya.





