Yakin Mau Jadi Penulis di Negeri yang Enggan Membaca?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Mungkin judul ini terdengar skeptis dan bisa membuat siapa pun yang ingin jadi penulis merasa pesimis. Tapi, coba deh kita lihat beberapa indikasi yang ada di sekitar kita. Kita tahu, setiap kali membeli barang elektronik seperti handphone atau gadget lainnya, pasti disertakan manual book yang memuat informasi mulai dari cara penggunaannya, spesifikasi, aturan pemasangan, hingga hal-hal yang perlu dihindari. Tapi, berapa banyak dari kita yang benar-benar membacanya? Biasanya, kita baru "terpaksa" membaca manual book kalau barangnya rusak, itu pun belum tentu membantu, kan? Akhirnya, ujung-ujungnya kita bawa ke tempat service.

Atau contoh lainnya, ketika kita sedang melakukan perjalanan jauh, di sepanjang jalan pasti ada sign board traffic atau petunjuk arah yang sangat jelas terpampang. Namun, seringkali kita merasa malas untuk membacanya, sampai akhirnya kita nyasar dan memilih bertanya kepada orang lain daripada terus berputar-putar. Ini adalah contoh sederhana dari fenomena di mana kita, sebagai masyarakat, enggan untuk membaca. Inilah gambaran umum tentang negara kita, di mana budaya membaca masih kalah saing dengan berbagai distraksi lainnya.

Maka, pertanyaannya adalah, kenapa memilih menjadi penulis di tengah kondisi seperti ini?

Luruskan Niat, Untuk Apa Kita Memilih Menjadi Penulis?

Banyak profesi lain yang lebih menjanjikan cuan, bukan? Jika kita pikirkan, menjadi penulis di negara yang kurang memiliki budaya membaca tentu bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak orang yang ingin menulis, namun mereka bingung dengan apa yang sebenarnya ingin mereka capai dengan menulis. Apakah untuk berbagi pengetahuan, menyuarakan pendapat, atau memang hanya ingin menambah pundi-pundi penghasilan?

Sebelum mulai menulis, penting bagi kita untuk meluruskan niat. Menjadi penulis bukan hanya soal menuliskan kata-kata yang indah di atas kertas, tetapi soal bagaimana kita bisa memberikan nilai lebih kepada pembaca. Apakah kita siap untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada, atau hanya terpaku pada keuntungan finansial yang semu? Jika niat kita benar, perjalanan sebagai penulis akan lebih bermakna.

Tantangan Menghadapi Penerbit Besar

Sekarang, mari kita lihat tantangan-tantangan yang dihadapi penulis ketika memilih untuk mengirimkan karya ke penerbit besar:

Mengirimkan naskah ke penerbit besar artinya kita akan bersaing dengan penulis-penulis yang sudah memiliki nama. Penulis yang sudah terkenal tentu memiliki kesempatan lebih besar untuk karya mereka diterima. Itu adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi para penulis pemula. Bahkan, banyak penerbit yang lebih memilih untuk menerbitkan karya penulis yang sudah dikenal daripada memberi kesempatan pada penulis baru yang mungkin memiliki potensi yang sama.

Proses seleksi naskah di penerbit besar sangat ketat. Kadang-kadang, kita harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan kabar apakah naskah kita diterima atau tidak. Bahkan, banyak penulis yang merasa frustasi karena tidak mendapatkan feedback yang jelas atau bahkan tidak mendapat jawaban sama sekali. Waktu yang terbuang ini bisa membuat penulis kehilangan motivasi.

Satu lagi tantangan yang tidak kalah berat: revisi. Penerbit besar sering kali meminta perubahan besar pada karya kita, baik itu perubahan plot, karakter, maupun gaya penulisan. Terkadang, penulis merasa bahwa revisi yang diminta justru mengubah esensi karya mereka. Bahkan, sering kali kita diminta untuk menulis ulang sebagian besar naskah sesuai dengan tren pasar yang sedang berkembang. Revisi-revisi ini bisa membuat penulis merasa terjebak dalam sistem yang mengorbankan kreativitas demi keuntungan pasar.

Kalau pun Karya Kita Lolos dan Berhasil Dicetak, Permasalahan Baru Pun Timbul:

Setelah karya kita dicetak dan dipasarkan, masih ada masalah lain yang harus dihadapi: royalti. Banyak penulis yang merasa bingung dan kecewa karena proses pembayaran royalti yang lambat dan tidak transparan. Bahkan, beberapa penulis mengaku tidak menerima pembayaran sesuai dengan yang dijanjikan oleh penerbit.

Beberapa penulis mengungkapkan bahwa pembagian royalti yang mereka terima jauh lebih sedikit daripada yang mereka harapkan. Pembagian yang tidak adil ini menyebabkan banyak penulis merasa diperlakukan tidak adil oleh penerbit, yang seharusnya memberikan imbalan yang lebih layak.

Beberapa penulis mengungkapkan bahwa mereka merasa seperti pengemis ketika berurusan dengan penerbit besar. Meskipun karya mereka telah sukses diterbitkan, proses yang panjang, tidak transparan, dan tidak memadai membuat mereka merasa dihargai rendah. Hal ini bisa sangat mengecewakan dan bahkan membuat beberapa penulis menyerah dengan keadaan.

Salah satu masalah besar yang kerap dihadapi penulis adalah karya yang dibajak. Di dunia penerbitan besar, tidak jarang penerbit yang mencetak buku tanpa sepengetahuan penulis. Mereka menjanjikan royalti, tapi hanya memberi laporan yang sangat minim atau bahkan mengklaim bahwa tidak ada penjualan sama sekali. Jika penulis berusaha menanyakan haknya, seringkali mereka tidak mendapatkan jawaban yang memadai atau malah diabaikan.Bahkan, ketika penulis mulai merasa frustrasi dan mencoba menagih royalti, penerbit seringkali menanggapi dengan diam seribu bahasa. Pada akhirnya, banyak penulis yang lebih memilih untuk melupakan saja dan tidak ingin mengganggu proses yang makin rumit dan berbelit-belit.

Self-Publishing dan Masalahnya

Mengingat berbagai kesulitan dengan penerbit besar, beberapa penulis memilih untuk self-publishing atau menerbitkan buku mereka sendiri. Walaupun ini memberi penulis kebebasan penuh untuk mengatur karya mereka, ada banyak tantangan yang datang bersamanya.

Salah satu tantangan utama dalam self-publishing adalah membangun pasar untuk buku kita. Tanpa dukungan dari penerbit besar, kita harus membangun basis pembaca sendiri. Hal ini memerlukan waktu, usaha, dan strategi pemasaran yang matang. Bukan perkara mudah untuk menjangkau pembaca yang lebih luas tanpa bantuan dari penerbit besar atau distributor buku.

Menjadi penulis di negara dengan budaya membaca yang belum begitu kuat memang bukanlah hal yang mudah. Tantangan besar di depan mata bisa membuat kita merasa putus asa, terutama ketika melihat kenyataan pahit tentang proses penerbitan dan royalti yang sering kali tidak memihak pada penulis. Namun, jangan pernah menyerah.

Jika kamu benar-benar ingin menjadi penulis, niatkanlah untuk berbagi cerita dan pemikiran, bukan hanya untuk keuntungan semata. Apakah kamu memilih untuk bekerja dengan penerbit besar atau mencoba self-publishing, ingatlah bahwa perjalanan ini penuh dengan tantangan. Tetapi jika kamu memiliki tekad dan kecintaan terhadap dunia menulis, kamu pasti bisa menghadapinya.

Yah, inilah artikel mahal bukan cuma dongeng atau opini, tetapi memang fakta yang sering dialami oleh beberapa penulis , bahkan hal ini dilakukan oleh penerbit besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Metro TV Sharia Economic Forum, Jawab Tantangan Sektor Ekonomi Syariah di Indonesia
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sopir Truk Kritis Ditembak OTK saat Kirim Air Bersih di Jalur Dekai Yahukimo
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Tindaklanjut arahan Presiden, Batam jalankan program Gema ASRI
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
OJK Pertimbangkan RUU Ekonomi Syariah untuk Perkuat Ekosistem dan Insentif Industri
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Keluarga Berantakan, Istri yang Kepergok Selingkuh dengan Oknum Kepala Dusun di Jombang Sudah Dipulangkan
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.