JAKARTA, KOMPAS.com - Ibu dari co-pilot Smart Air, Capt. Baskoro Adi Anggoro, sempat merasa ragu ketika anaknya mendapat penugasan terbang ke Papua sebelum akhirnya tewas dalam insiden penembakan di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Hal itu disampaikan paman Baskoro, Doni (56). Ia mengatakan keponakannya telah bekerja sebagai penerbang di maskapai Smart Air selama lima tahun. Namun, penugasan ke Papua baru diterima beberapa hari terakhir.
“Kalau di Smart Air sudah lima tahun. Sebelumnya memang sudah pernah terbang, tapi kebetulan sudah lama tidak ke Papua,” kata Doni saat ditemui di rumah duka di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2026).
Menurut Doni, Baskoro sempat dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu karena sakit. Tak lama setelah pulih, ia langsung mendapat penugasan ke Papua.
“Dia habis sakit, sempat opname. Terus tiba-tiba dapat tugas ke Papua. Mungkin enggak sempat berpikir panjang, langsung berangkat saja. Orang tuanya sempat tanya, ‘Aman enggak?’ Dia jawab, ‘Aman’. Katanya sudah pernah, tapi ternyata bandaranya berbeda,” ujar Doni.
Baca juga: Jenazah Pilot Smart Air Tiba di Rumah Duka, Disambut Isak Tangis Keluarga
Doni juga menyoroti minimnya pengamanan di bandara sipil tempat kejadian terjadi. Menurut dia, bandara yang melayani penerbangan sipil seharusnya memiliki sistem keamanan yang memadai.
“Sedih ya, kok dapat tugas di bandara yang enggak ada pengamanan. Mestinya penerbangan sipil itu ada pengamanan yang cukup,” kata dia.
Ia meminta pemerintah serius menangani kasus penembakan tersebut serta memastikan keamanan di Papua, khususnya di bandara-bandara yang melayani penerbangan sipil.
“Pemerintah harus serius menangani kasus Papua. Masa penerbangan sipil enggak dijaga? Itu yang paling berat buat kami,” ucapnya.
Baca juga: Smart Air Ditembaki KKB, IPI: Risiko yang Tak Seharusnya Dihadapi Pilot Sipil
Diketahui, Capt. Egon Erawan dan co-pilot Smart Air Capt. Baskoro Adi Anggoro meninggal dunia setelah pesawat yang mereka kemudikan ditembaki oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Bandara Korowai Batu, Rabu (11/2/2026).
Pesawat tersebut melayani rute Tanah Merah–Danawage/Korowai Batu dan berangkat sekitar pukul 10.38 WIT dengan manifes awal 12 penumpang.
Namun, Kepala Polres Boven Digoel AKBP Wisnu Perdana Putra menyebutkan bahwa pesawat membawa 13 orang saat terbang dari Tanah Merah menuju Lapangan Terbang Korowai Batu, Kampung Danowage.
Setelah mendarat, pesawat dilaporkan ditembaki. Pilot dan kopilot sempat berupaya menyelamatkan diri ke area hutan di sekitar bandara. Namun, keduanya ditemukan oleh para pelaku dan ditembak hingga meninggal dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




