VIVA – Tiga orang menjadi korban penembakan di sebuah sekolah di provinsi Songkhla, Thailand selatan pada Rabu, 11 Februari 2026. Satu orang korban -- seorang kepala sekolah dilaporkan tewas dan dua siswa luka-luka. Polisi menangkap remaja berusia 18 tahun yang diidentifikasi sebagai pelaku dan langsung ditahan.
Menurut keterangan polisi, remaja tersebut ditembak dan ditangkap setelah memasuki Sekolah Phatong Prathan Khiriwat dengan membawa senjata api milik polisi. Aparat menyebut beberapa tembakan dilepaskan sebelum situasi berhasil dikendalikan.
Kepala sekolah, Sasiphat Sinsamosorn, sempat menjalani operasi akibat luka tembak sebelum akhirnya meninggal dunia di rumah sakit pada Kamis pagi. Departemen hubungan masyarakat Songkhla dalam pernyataannya menyebut korban sebagai "guru pemberani".
Kepala polisi Songkhla Teerasak Chaiyotha mengatakan kepada AFP bahwa korban ditembak sebelum polisi turun tangan dan mengamankan tersangka. Remaja tersebut saat ini masih dirawat di rumah sakit karena terkena peluru dan belum didakwa sambil menunggu hasil penyelidikan.
Polisi sebelumnya menerima laporan tentang seorang remaja yang "bertindak tidak menentu". Teerasak juga mengungkapkan bahwa tersangka sempat menjalani perawatan kejiwaan pada Desember lalu sebelum dipulangkan.
Menurut penyelidikan awal, remaja itu diduga menikam seorang petugas polisi dengan pisau dan merampas pistol 9 mm miliknya, tepat sebelum menuju sekolah dan melakukan penembakan.
Akibat insiden tersebut, seorang siswi mengalami luka tembak dan harus menjalani operasi, sementara satu siswa lainnya terluka setelah melompat dari lantai dua gedung sekolah untuk menyelamatkan diri. Siswa kedua tersebut kini telah dipulangkan dari rumah sakit.
Pihak sekolah menyampaikan "belasungkawa terdalam" melalui unggahan di Facebook. "Meskipun kami telah kehilangannya, kenangan dan kebaikan yang ditinggalkannya akan selalu tetap di hati kami," tulis pihak sekolah.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut dihentikan selama dua hari untuk memberi waktu bagi aparat mengumpulkan bukti serta mengevaluasi langkah-langkah keamanan.
Thailand sendiri memiliki tingkat kepemilikan senjata api yang tinggi di kawasan, dengan sekitar 10 juta senjata diperkirakan beredar atau setara satu senjata untuk setiap tujuh penduduk. Berbagai janji untuk memperketat regulasi senjata api sebelumnya belum mampu mencegah terjadinya insiden penembakan berulang.





