FAJAR, SURABAYA— Persebaya Surabaya pelan tapi pasti mengubah arah musimnya. Green Force kini tak sekadar tim yang sedang “on fire”, tetapi mulai masuk dalam radar serius bursa juara Super League 2025/2026. Bersama Persib Bandung dan Persija Jakarta, nama Persebaya kian sering disebut dalam perbincangan papan atas.
Datanya berbicara.
Hingga pekan ke-20, Persebaya sudah mengoleksi 31 gol dari 20 pertandingan—rata-rata 1,55 gol per laga. Angka itu identik dengan Persib Bandung dan cukup untuk menempatkan Green Force dalam lima besar tim paling produktif musim ini.
Di atas mereka ada Malut United (38 gol), Borneo FC (36), dan Persija Jakarta (36). Tapi momentum? Itu milik Persebaya.
Era Tavares: Bukan Sekadar Efek Pelatih Baru
Sejak ditangani Bernardo Tavares awal Januari, grafik performa langsung menanjak. Dalam empat laga pertamanya, Persebaya meraih tiga kemenangan dan satu hasil imbang. Tak terkalahkan.
Namun Tavares menolak disebut pembawa keajaiban.
“Saya tidak membuat apa-apa. Saya hanya memasang para pemain dan mereka membuat keajaiban,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi mencerminkan satu hal: perubahan terbesar ada pada mentalitas.
Persebaya kini bermain lebih berani. Transisi dari bertahan ke menyerang berjalan rapi. Intensitas ditekan sejak awal hingga menit akhir. Bahkan dalam kondisi skuad tak ideal.
“Beberapa dari mereka sakit, beberapa terluka, dan banyak pemain bermain di posisi yang tidak biasa. Tapi mereka mencoba melakukan yang terbaik,” lanjut Tavares.
Justru dari keterbatasan itu, karakter baru terbentuk.
Tak Cuma Tajam, Tapi Sulit Dibobol
Produktivitas meningkat, tetapi yang lebih penting adalah keseimbangan. Persebaya tak lagi mudah goyah. Struktur bertahan lebih disiplin, jarak antar lini lebih terjaga, dan pressing kolektif lebih terorganisasi.
Green Force kini bukan tim yang hanya mengandalkan satu-dua nama di depan. Gol datang dari berbagai sektor—lini tengah ikut aktif, bek berani overlap, dan pergerakan tanpa bola lebih hidup.
Itulah identitas baru di era Tavares: terstruktur, sabar, tapi tetap punya urgensi di sepertiga akhir.
Tekanan Berbalik ke Rival
Persib memang masih stabil di puncak. Persija tetap agresif. Tapi Persebaya datang dengan satu keunggulan psikologis: momentum.
Tak terkalahkan, produktif, dan menunjukkan konsistensi permainan.
Dalam persaingan yang marginnya tipis, stabilitas mental sering kali lebih menentukan daripada sekadar kualitas individu. Dan saat ini, Green Force terlihat menikmati tekanannya.
Super League masih panjang. Tantangan akan datang bertubi-tubi. Tetapi fondasi sudah diletakkan.
Jika konsistensi terjaga dan badai cedera tak kembali menghantam, Persebaya bukan lagi sekadar tim kuda hitam.
Mereka sedang menegaskan diri sebagai kandidat juara yang sah.
Dan di Surabaya, aroma optimisme itu mulai terasa nyata.





