Kita Tidak Dilahirkan untuk Hidup, Kita Dilatih untuk Bertahan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Judul besar tentang hidup sering terdengar manis. Kita dilahirkan untuk bahagia. Kita dilahirkan untuk bermimpi. Kita dilahirkan untuk menikmati hidup. Kalimat kalimat ini dijual seperti brosur wisata. Indah di awal tapi tidak bertanggung jawab pada kenyataan. Hidup ternyata tidak pernah bertanya apakah kita siap menikmatinya. Hidup langsung menampar sejak bangun pertama kali. Maka wajar jika muncul kesimpulan yang jauh lebih jujur. Kita tidak dilahirkan untuk hidup. Kita dilatih untuk bertahan.

Sejak kecil kita sudah diajari satu hal penting bukan cara hidup enak tapi cara tidak mati duluan. Disuruh kuat. Disuruh sabar. Disuruh menyesuaikan diri. Tidak ada kurikulum resmi tentang bahagia. Yang ada hanya pelajaran bagaimana tidak tumbang. Sekolah mengajarkan kompetisi bukan ketenangan. Keluarga mengajarkan bertahan bukan memahami. Lingkungan mengajarkan menutup mulut bukan menyuarakan luka. Semua itu disebut proses pendewasaan padahal lebih tepat disebut latihan bertahan hidup versi sosial.

Lucunya sistem ini masih ingin terlihat mulia. Hidup digambarkan sebagai anugerah padahal perlakuannya seperti ujian tanpa kisi-kisi. Setiap hari kita diuji tanpa tahu apa soalnya. Salah sedikit dihukum. Lemah sedikit dicemooh. Lelah sedikit disuruh bersyukur. Di titik ini bersyukur berubah fungsi dari rasa terima kasih menjadi alat pembungkam yang sangat efisien. Jangan mengeluh katanya. Banyak yang lebih susah. Seolah derita adalah lomba dan hanya pemenang teratas yang berhak merasa sakit.

Dalam dunia seperti ini bertahan bukan pilihan. Bertahan adalah kewajiban. Tidak bertahan berarti kalah. Tidak kuat berarti gagal. Tidak sanggup berarti tidak layak. Maka benar adanya hanya orang tolol yang tidak bisa bertahan dalam hidup ini. Tolol bukan karena bodoh secara intelektual tapi karena menolak belajar dari kenyataan bahwa hidup tidak peduli pada perasaan. Hidup hanya menghormati daya tahan. Siapa yang mampu berdiri paling lama dialah yang disebut sukses. Terlepas dari bagaimana caranya berdiri dan apa yang harus dikorbankan.

Kita terlalu sering menipu diri sendiri dengan narasi hidup harus dinikmati. Padahal kenyataannya hidup lebih sering dijalani sambil menahan napas. Menikmati hidup terdengar seperti hak universal padahal lebih mirip bonus langka. Yang universal adalah tekanan. Yang merata adalah tuntutan. Yang konsisten adalah ketidakadilan. Maka kalimat jalani nikmati syukuri sering kali bukan motivasi tapi penenang darurat agar orang tidak banyak bertanya.

Menjalani hidup berarti menerima bahwa setiap hari adalah latihan. Latihan menghadapi kekurangan. Latihan menerima keterbatasan. Latihan berdamai dengan kenyataan bahwa usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Menikmati hidup bukan berarti tertawa terus menerus tapi mampu menertawakan absurditasnya. Mampu menyadari betapa ironisnya dunia yang meminta kita kuat tapi tidak pernah memberi waktu istirahat. Bersyukur bukan berarti menyangkal sakit tapi mengakui bahwa meski sakit kita masih berdiri.

Kekurangan bukan masalah tapi tantangan kata orang orang bijak. Kalimat ini sering terdengar seperti slogan murah tapi sebenarnya sangat kejam sekaligus jujur. Kekurangan memang bukan masalah bagi sistem. Kekurangan adalah bahan bakar. Orang yang kurang akan bekerja lebih keras. Orang yang kurang akan lebih patuh. Orang yang kurang akan lebih mudah disuruh bertahan tanpa banyak menuntut. Maka tantangan itu bukan untuk mengatasi kekurangan tapi untuk membuktikan apakah kita cukup keras kepala untuk tidak menyerah.

Hidup tidak membutuhkan manusia yang bahagia. Hidup membutuhkan manusia yang tahan banting. Dunia tidak dibangun oleh orang yang menikmati hidup tapi oleh orang yang terlalu keras kepala untuk mati. Orang orang yang terus berjalan meski tahu jalannya salah. Orang orang yang terus bangun meski tahu besok akan jatuh lagi. Inilah ironi terbesar. Mereka disebut pejuang padahal mereka hanya tidak punya pilihan lain.

Pandangan bahwa kita dilahirkan untuk bertahan memang pahit. Tapi setidaknya jujur. Ia tidak menjanjikan surga. Ia hanya menawarkan kemungkinan tetap hidup. Dan di dunia seperti ini kemungkinan itu sudah cukup mahal. Maka berhentilah berpura pura hidup ini ramah. Hidup ini kasar. Hidup ini dingin. Hidup ini tidak peduli. Tapi justru di situlah nilai manusia diuji. Bukan pada seberapa bahagia ia hidup tapi seberapa lama ia mampu bertahan tanpa kehilangan kesadaran bahwa semua ini memang tidak adil.

Pada akhirnya hidup bukan tentang menemukan makna indah. Hidup tentang tidak tumbang meski maknanya sering kabur. Kita tidak dilahirkan untuk hidup dengan nyaman. Kita dilatih untuk bertahan dengan sadar. Dan siapa pun yang menolak belajar bertahan hanya sedang menyiapkan diri untuk kalah dengan alasan paling romantis.

Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas, Medan. Fakultas Ilmu Komputer.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Upaya IHH Healthcare Malaysia Genjot Akses Berobat WNI ke Luar Negeri
• 2 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pramono Rencanakan Penambahan Pengadaan Truk Sampah Listrik 2026, Harap Bisa Tekan Emisi
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
TP2DD Sumut Perkuat Digitalisasi Daerah dan Akselerasi Roadmap ETPD 2026–2030
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KPK Periksa Eks Direktur PT Sintas Kurama Perdana Terkait Korupsi Pengadaan Karet Kementan
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Sinopsis BERI CINTA WAKTU SCTV Episode 153, Hari Ini Kamis 12 Februari 2026: Adila dan Trian Diintai, Foto Rahasia Picu Kepanikan
• 7 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.