Bisnis.com, JAKARTA — Lampu hijau pengecualian tarif Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia, mulai dari minyak kelapa sawit (CPO), kopi, hingga kakao, membuka peluang peningkatan ekspor. Meski demikian, kebijakan ini dinilai belum optimal jika hanya menyasar komoditas mentah tanpa mendorong produk bernilai tambah.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan bahwa kinerja ekspor minyak sawit Indonesia ke AS selama ini menunjukkan tren yang cukup solid. Bahkan, ekspor minyak sawit ke AS telah konsisten meningkat dan kini berada di atas 2 juta ton.
Pada 2023, Gapki mencatat ekspor sawit Indonesia ke AS tercatat mencapai 2,5 juta ton, meski turun menjadi 2,3 juta ton pada 2024. Eddy menilai terdapat ruang pertumbuhan yang cukup besar apabila tarif masuk sawit ke AS diturunkan menjadi 0%.
“Artinya ada potensi apabila tarif menjadi 0%, ekspor ke AS bisa sampai 3 juta ton [dalam] 2 tahun ke depan, karena saat food industry yang banyak membutuhkan minyak sawit,” kata Eddy kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).
Berbeda dengan sawit, dampak pengecualian tarif dinilai tidak akan terlalu signifikan bagi komoditas kakao. Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) periode 2025—2028 Soetanto Abdoellah menilai ekspor kakao Indonesia ke AS berpeluang meningkat, namun volumenya tidak besar.
Pasalnya, Soetanto menjelaskan bahwa produk kakao Indonesia yang diekspor ke AS meliputi lemak kakao (butter), cokelat (chocolate), dan biji kakao (beans), dengan volume yang relatif kecil dibandingkan pengiriman ke China dan Belanda.
Selain itu, ekspor cokelat Indonesia ke AS juga masih di bawah pengiriman ke sejumlah negara Asean, seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam. Senada, ekspor biji kakao ke AS sangat minim dan jauh lebih kecil dibandingkan ke Malaysia, Belanda, Jepang, Belgia, Prancis, Denmark, maupun India.
Dari sisi prospek, Dekaindo memperkirakan peningkatan ekspor kakao ke AS imbas kebijakan tersebut berada di bawah 10%.
“Mungkin akan menaikkan kinerja perdagangan Indonesia dengan AS ke depan, tetapi saya kira khususnya untuk komoditas kakao dan produk turunannya tidak terlalu signifikan,” ujar Soetanto kepada Bisnis.
Selain keterbatasan volume, Dekaindo menyebut pelaku usaha kakao juga dihadapkan pada ketatnya regulasi keamanan pangan AS. Menurut Soetanto, isu residu pestisida dan kandungan logam berat menjadi hambatan utama bagi produk pangan yang masuk ke pasar AS.
Di sisi lain, harga biji kakao global yang saat ini turun hingga di bawah US$4.000 per ton juga membuat pelaku usaha cenderung bersikap wait and see untuk menghindari potensi kerugian.
Dari sisi kopi, Direktur PT Noozkav Kopi Indonesia Daroe Handojo menuturkan permintaan kopi dari AS sudah mulai menunjukkan peningkatan. Daroe optimistis perjanjian dagang AS—Indonesia akan berdampak positif terhadap kinerja perdagangan Indonesia ke depan.
Bahkan, dia memperkirakan pasar AS berpotensi menggantikan porsi ekspor kopi Indonesia ke negara lain. “Untuk AS bisa diperkirakan akan mengganti porsi negara lain dalam jumlah besar. Mungkin mayoritas akan mengambil dari Indonesia,” kata Daroe kepada Bisnis.
Meski demikian, Daroe menekankan bahwa tantangan utama yang harus dihadapi pelaku usaha kopi adalah peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, termasuk pemenuhan aspek ketertelusuran.





