Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memastikan negosiasi AS dengan Iran akan berlanjut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ragu negosiasi itu akan mencapai kesepakatan.
Netanyahu telah melakukan perjalanan ke Washington untuk pertemuan ketujuhnya dengan Trump sejak Presiden AS itu kembali berkuasa. Israel juga mendorong sikap yang lebih keras dari AS dalam pembicaraan nuklir dengan Iran.
"Presiden percaya bahwa Iran telah mengetahui dengan siapa mereka berurusan," kata Netanyahu di Washington sebelum berangkat ke Israel, menurut pernyataan video dari kantornya dilansir AFP, Jumat (13/2/2026).
"Ia percaya bahwa kondisi yang ia ciptakan, dikombinasikan dengan fakta bahwa mereka pasti memahami bahwa mereka telah melakukan kesalahan terakhir kali ketika mereka tidak mencapai kesepakatan, dapat menciptakan kondisi untuk mencapai kesepakatan yang baik," tambahnya.
Meski begitu, Netanyahu mengaku ragu negosiasi AS dan Iran akan sukses.
"Saya tidak akan menyembunyikan dari Anda bahwa saya menyatakan skeptisisme umum mengenai kualitas kesepakatan apa pun dengan Iran," katanya.
Dia mendorong kesepakatan AS dan Iran harus mengakomodasi kepentingan Israel. Dia menyinggung program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan seperti gerakan Palestina Hamas, pemberontak Houthi di Yaman, dan Hizbullah di Lebanon, telah mengancam Israel.
"Ini bukan hanya masalah nuklir," katanya.
Pada hari Rabu (11/2), Trump telah mengatakan kepada Netanyahu di Gedung Putih bahwa pembicaraan dengan Iran harus dilanjutkan. Trump juga menolak desakan pemimpin Israel untuk sikap yang lebih keras.
Presiden AS telah berulang kali mengisyaratkan potensi tindakan militer AS terhadap Iran setelah penindakan brutal terhadap protes bulan lalu, bahkan ketika Washington dan Teheran memulai kembali pembicaraan pekan lalu dengan pertemuan di Oman.
Putaran pembicaraan terakhir antara kedua musuh tersebut dipersingkat oleh perang 12 hari Israel dengan Iran pada bulan Juni 2025, yang sempat diikuti AS dengan serangan terhadap fasilitas nuklir.
Sejauh ini, Iran menolak untuk memperluas pembicaraan baru tersebut di luar isu program nuklirnya, meskipun Washington juga ingin program rudal balistik Teheran dan dukungannya terhadap kelompok militan regional dimasukkan dalam pembahasan.
(ygs/ygs)





