BEKASI, KOMPAS.com – Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Khoirul Ahmad Habibi (12) tetap bertekad melanjutkan sekolah meski harus menempuh perjalanan jauh dan bekerja sebagai kernet delman untuk membantu keluarga.
Semangatnya belajar tak luntur, meski sehari-hari ia harus menjaga adik-adiknya dan membantu orang tua yang bekerja serabutan.
Habibi, bocah asal Perumahan Citra Garden Permai, Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, saat ini duduk di kelas 4 SD.
Baca juga: Jadi Kernet Delman, Habibi Sisihkan Upah Rp 5.000 untuk Sekolah dan Bantu Ibu
Setiap hari ia berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer menuju sekolahnya di Desa Srimukti, perjalanan yang memakan waktu lebih dari 30 menit. Ia masuk sekolah pada siang hari, mulai pukul 12.00 hingga 17.00 WIB.
Meski begitu, dalam sepekan, Habibi hanya mampu bersekolah sekitar tiga hari. Selebihnya, ia harus menjaga dua adiknya yang masih kecil karena kedua orang tuanya bekerja serabutan. Kondisi ini membuatnya kerap absen dan berisiko tertinggal pelajaran.
"Saya sebenarnya senang belajar. Walaupun harus jalan kaki sendiri ke sekolah. Saya mau untuk tetap lanjut sekolah," ucap Habibi saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Rabu (13/2/2026).
"Cuma karena memang kondisinya saat ini harus jaga adek jadi libur. Saya ingin membahagiakan orang tua, terus bahagiain adek," tambah dia.
Pekerjaan sebagai kernet delmanSejak enam bulan terakhir, Habibi bekerja sebagai kernet delman di kawasan Darmawangsa, Tambun Utara, mulai selepas Ashar hingga pukul 18.00 WIB. Pekerjaannya meliputi memberi makan rumput, memandikan kuda, hingga membantu mengurus delman sebelum beroperasi.
"Sebenarnya ada rasa takutnya, sering ditendang sama kudanya juga, tapi sudah biasa gitu. Saya juga kasih rumput, sama mandiin. Habis mandiin baru ngurusin delman di Darmawangsa," katanya.
Baca juga: Awal Mula Habibi Jadi Kernet Delman demi Bantu Ekonomi Keluarga
Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh upah sekitar Rp 20.000–30.000 per hari. Sebagian besar uang itu diserahkan kepada ibunya untuk membantu kebutuhan rumah tangga, sementara sebagian kecil digunakan untuk kebutuhan sekolah.
"Biasanya uang yang saya dapat dari kernet delman disimpan untuk dikasih ke ibu. Kalau untuk sekolah paling sekitar Rp 5.000," ucapnya.
Keterbatasan ekonomiKondisi ekonomi keluarga juga berdampak pada perlengkapan sekolah Habibi. Seragam yang ia kenakan saat ini terakhir dibeli ketika duduk di kelas 2 SD, kini mulai kekecilan dan beberapa bagian sobek.
"Baju seragam saya sudah pada kekecilan, udah sempit, jadi enggak betah pakainya, sesak juga. Terakhir kali saya beli seragam pas kelas 2 SD. Kalau seragamnya basah, paling pakai baju olahraga aja," kata Habibi.
Meski demikian, ia tetap berangkat ke sekolah setiap kali memiliki kesempatan, menunjukkan semangat yang tinggi untuk belajar.
Habibi tinggal bersama kedua orang tua, dua adik perempuan, seorang nenek yang menderita stroke, dan seorang bibi dengan keterbelakangan mental, di rumah kontrakan sederhana seharga Rp 600.000 per bulan.
Baca juga: Tangis Kernet Delman Habibi Dapat Bantuan Sepeda, Kini Tak Lagi Jalan Kaki ke Sekolah




