JAKARTA, KOMPAS.TV - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Kementerian Agama melalui khotbah Jumat tanggal 13 Februari 2026 mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk menyambut Ramadan dengan hati yang penuh syukur dan wajah yang berseri.
Dalam khotbah ini, Kemenag menekankan pentingnya mempersiapkan diri secara spiritual, emosional, dan sosial guna menyongsong bulan penuh rahmat tersebut.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, serta mempererat ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat.
Sikap gembira dalam menyambut Ramadan adalah cermin keimanan, karena bulan ini merupakan anugerah agung dari Allah SWT yang mengandung banyak keutamaan dan keberkahan.
Baca Juga: Cara Penukaran Uang Baru 2026 Melalui Aplikasi PINTAR Bank Indonesia untuk Persiapan Lebaran
Sambut Ramadan dengan Riang Gembiraالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيقِهِ الْقَوِيمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِينِهِ الْمُسْتَقِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيمُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ الْجَسِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيمِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ : شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أَخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدِيكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Hadirin jemaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah, Segala puji bagi Allah Swt atas karunianya kita berjumpa dengan hari Jum’at ini, Jum’at yang semakin mendekatkan kita dengan bulan Ramadan. Mudah-mudahan Allah Swt memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadan. Selawat dan salam kita sampaikan kepada nabi kita, Nabi Muhammad saw. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya.
Sebagai seorang khatib, tentunya memiliki tanggung jawab untuk terus mengingatkan jemaah tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan berarti melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat. Dunia ini hanyalah ladang untuk menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat kita memetik hasil dari apa yang telah kita kerjakan.
Jemaah salat Jum’at yang dirahmati Allah, Tidak seorang muslim pun yang tidak gembira menyambut kedatangan Ramadan, meski alasan gembiranya berbeda-beda. Di Indonesia, Ramadan bukan hanya momentum agama spiritual, tetapi juga adalah momentum sosial, ekonomi, dan sedikit politik.
Semua momentum tersebut menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Jelas Ramadan adalah momentum spiritual agama, karena itu adalah kesempatan bagi setiap muslim untuk me-restart dan me-refresh kehidupan spritualnya agar kembali bersih dari segala dosa dan juga segar dari kepengapan disorientasi kehidupan dari yang sesungguhnya.
Ketika Ramadan datang, Allah Swt seperti menyediakan pusat pelatihan selama sebulan yang dilengkapi instruktur yaitu para ulama, materi berupa ceramah dan renungan, dan ritual-ritual seperti tarawih, tahajud, dan membaca Al-Qur’an. Targetnya adalah kehidupan spiritual yang lebih baik setelah Ramadan.
Hadirin jemaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah, Sebagai momentum sosial, Ramadan menjadi wahana kohesi sosial, yaitu mengeratkan kembali hubungan-hubungan sosial yang sebelumnya terbengkalai akibat padatnya urusan masing-masing.
Karena itu, biasanya mendekati Ramadan, ada ucapan maaf yang saling dikirimkan satu sama lain. Bahkan di Indonesia ada tradisi “nyekar” yang berarti tidak jarang sebuah keluarga besar pulang kampung untuk berziarah kepada makam keluarga yang telah lebih dahulu wafat.
Tentu saja kenyataannya itu bukan hanya berarti ziarah kubur, tetapi juga perjumpaan secara fisik dengan orang-orang atau keluarga yang telah lama tidak ditemui. Semua itu kemudian memuncak pada Hari Raya Idul Fitri, sebuah momentum kohesi sosial yang sangat besar. Sebagai momentum ekonomi, Ramadan adalah momentum yang sangat kuat mendorong aktivitas ekonomi, terutama yang melibatkan makanan, sandang, dan jasa.
Tidak hanya ekonomi makro yang melibatkan perusahaan, ekonomi mikro berupa usaha rumah tangga juga merasakan denyut yang kuat di bulan Ramadan. Barangkali ada pandangan negatif terhadap menguatnya aktivitas ekonomi selama Ramadan karena dianggap sebagai sisi duniawi dari yang seharusnya Ramadan berorientasi akhirat.
Namun, di saat ekonomi lesu seperti sekarang ini, belanja tidak semata-mata aspek duniawi, tetapi juga akhirat karena itu sama saja dengan membantu ekonomi keluarga tetangga dengan dagangannya yang kecil-kecil tetapi sangat berarti bagi mereka. Karena itu, belanja bukan hanya belanja, tetapi bernilai sedekah. Ternyata Ramadan juga adalah momentum politik, terutama politik luhur.
Paling tidak, aura Ramadan bisa menekan kata-kata atau jargon-jargon yang harusnya kasar menjadi sedikit terkendali. Paling tidak, di acara buka puasa bersama, di antara banyaknya perbedaan kepentingan politik, ada yang sama yaitu sama-sama muslim dan sesama muslim seharusnya saling menghargai. Hadirin jemaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah, Ada doa dari menantu Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib yang layak dibaca tentang Ramadan. Doa itu berbunyi:
Baca Juga: Niat Puasa Ramadan 2026 Sebulan Penuh dan Sehari-hari, Ini Bacaan Bahasa Arab dan Artinya
Penulis : Dian Nita Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- khotbah jumat
- 13 februari 2026
- menyambut ramadan
- ramadan
- riang gembira





